Bekali Perempuan Berdaya Lewat Aroma Roti, Mulai Dari Adonan Dasar hingga Peluang Cuan Roti Bakar

UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW) memberikan ketrampilan pada penerima manfaat.

Inti Berita:

  • Vokasi Mandiri: Pemprov Jatim melalui UPT RSBKW Kediri memberikan pelatihan tata boga strategis berupa pembuatan roti tawar (produk hulu) dan roti bakar (produk hilir) kepada para Penerima Manfaat (PM).
  • Penguasaan Teknik Presisi: Peserta dilatih menguasai seluruh rantai produksi, mulai dari teknik proofing adonan yang lembut hingga seni memanggang roti bakar dengan tekstur renyah berwarna keemasan yang merata.
  • Target Kemandirian: Program ini bertujuan memulihkan keberfungsian sosial para perempuan melalui jalur ekonomi, agar mereka siap membuka usaha bakery mandiri atau bekerja profesional setelah lulus dari panti.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya:

Dari Rehsos Jadi Dayanomi

Kediri, Sapapublik – Di sebuah sudut ruang keterampilan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW) Kediri, aroma ragi dan mentega yang terpanggang memenuhi udara. Bagi para perempuan Penerima Manfaat (PM) di sana, aroma ini bukan sekadar bau panggangan biasa, melainkan aroma harapan untuk masa depan yang lebih mandiri.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Dinas Sosial, tengah gencar mengubah wajah rehabilitasi sosial menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Melalui tangan dingin para instruktur di UPT RSBKW Kediri, para peserta diajak menyelami dunia bakery yang memiliki pasar sangat luas.

Fondasi dari Selembar Roti Tawar

Perjalanan kemandirian ini dimulai dari ruang tata boga, para peserta fokus mempelajari “ilmu dasar” industri roti, yaitu pembuatan roti tawar. Ini bukan sekadar mencampur tepung, namun sebuah latihan ketelitian yang presisi.

Para peserta dibimbing untuk memahami teknik pencampuran adonan yang sempurna, diikuti dengan proses fermentasi atau proofing yang krusial untuk menentukan volume roti. Mereka belajar bagaimana menciptakan tekstur roti yang lembut dengan pori-pori yang merata.

Tak berhenti di sana, teknik pemanggangan yang tepat hingga proses mengeluarkan roti dari loyang menjadi ujian kesabaran tersendiri. Pelatihan ini menekankan bahwa higienitas dan ketelitian timbangan adalah standar harga mati jika ingin bersaing di pasar kuliner.

Mengubah Bahan Dasar Menjadi Nilai Jual

Kemudian materi pelatihan meningkat ke tahap yang lebih komersial yaitu pembuatan roti bakar. Jika roti tawar adalah produk dasarnya, maka roti bakar adalah cara mereka menjemput “cuan” di tengah masyarakat.

Roti bakar dipilih karena merupakan kudapan sejuta umat yang digemari berbagai kalangan. Dalam sesi ini, para PM tidak lagi hanya berurusan dengan adonan mentah, tetapi belajar teknik penyajian yang menggugah selera. Mereka berlatih menggunakan pan dan pemanggang datar untuk menghasilkan warna cokelat keemasan yang cantik.

Kejelian mengatur suhu api menjadi kunci agar roti tetap gurih tanpa hangus. Selain teknik memasak, kreativitas dalam memberikan variasi isian dan estetika penyajian menjadi materi tambahan agar produk mereka nantinya memiliki daya saing tinggi.

Memulihkan Martabat Lewat Ekonomi

Kepala UPT RSBKW Kediri, Sulastri, S.Pd., M.Si., yang memantau langsung proses ini, menyatakan rasa bangganya atas etos kerja para peserta. Beliau menegaskan bahwa kurikulum ini dirancang dari hulu ke hilir agar relevan dengan tren kuliner saat ini.

“Harapan saya, bekal keterampilan ini dapat mereka kembangkan menjadi usaha mandiri setelah lulus dari panti,” ujar Sulastri. Baginya, ketika seorang perempuan mampu berdaya secara ekonomi, maka keberfungsian sosialnya di tengah masyarakat akan pulih dengan sendirinya.

Melalui komitmen Pemprov Jatim ini, para Penerima Manfaat kini tidak hanya pulang membawa sertifikat, tetapi membawa keahlian nyata untuk menjadi sosok perempuan yang mandiri, kompetitif, dan berdaya di masyarakat luas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *