Memutus Rantai Belenggu, Langkah Nyata JSC Dinsos Jatim Kembalikan Martabat 4 Korban Pasung

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Jatim, Muchamad Arif Ardiansyah saat membantu langsung membuka rantai pasung.

Inti Berita:

  • Intervensi Kemanusiaan: Tim Jatim Social Care (JSC) Dinsos Jatim resmi membebaskan 4 orang ODGJ yang telah terpasung selama lebih dari 3 tahun di wilayah Kabupaten Probolinggo.
  • Sinergi Lintas Sektor: Aksi pembebasan ini melibatkan kolaborasi strategis antara JSC Dinsos Jatim, RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang, Dinsos Kabupaten Probolinggo, hingga perangkat desa.
  • Pemulihan Terpadu: Pasca-pembebasan, para korban menjalani proses rehabilitasi ganda, dimulai dari medis di rumah sakit jiwa hingga rehabilitasi sosial di UPT Dinsos Jatim.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya

Misi Kemanusiaan di Empat Penjuru Probolinggo

Probolinggo, Sapapublik – Jumat, 24 April 2026, menjadi titik balik bagi empat nyawa yang selama ini terabaikan oleh dunia luar. Di balik dinding rumah yang sunyi di empat kecamatan yaitu di Leces, Gending, Gading, dan Tiris.

Mereka, tim Jatim Social Care (JSC) Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur hadir membawa harapan baru. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan administratif, melainkan sebuah misi untuk memanusiakan kembali mereka yang terbelenggu.

Selama lebih dari 3 tahun, empat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah ini harus merasakan dinginnya pasung. Ruang gerak mereka terbatas, hak-hak dasarnya terhenti karena dianggap agresif oleh lingkungan sekitar. Namun, melalui tangan dingin tim JSC Dinsos Jatim, belenggu itu satu per satu mulai dilepaskan.

Pendekatan Hati oleh JSC Dinsos Jatim

Melepaskan pasung bukanlah perkara mudah; diperlukan keberanian sekaligus kelembutan. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Jatim, Muchamad Arif Ardiansyah, S.STP., M.Si., turun langsung memimpin proses ini. Alih-alih menggunakan cara-cara kaku, tim JSC Dinsos Jatim mengedepankan pendekatan persuasif yang penuh empati.

Langkah ini diambil untuk memastikan para korban merasa aman dan keluarga memahami bahwa kesembuhan adalah jalan keluar yang lebih baik daripada pengurungan.

Dalam aksi ini, Dinsos Jatim tidak berjalan sendiri. Mereka merangkul tim medis dari RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang, personel Dinsos Kabupaten Probolinggo, serta perangkat desa setempat.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penanganan kesehatan jiwa memerlukan ekosistem yang solid, bukan sekadar tanggung jawab satu pihak.

Meniti Jalan Panjang Menuju Kemandirian

Realita di lapangan memperlihatkan potret pilu; bentuk pasung yang digunakan keluarga sangat beragam, tergantung kondisi rumah masing-masing. Alasan klasiknya tetap sama, yaitu ketidaktahuan cara menangani perilaku agresif anggota keluarga yang sakit jiwa.

Arif Ardiansyah menegaskan bahwa intervensi cepat dari Dinsos Jatim adalah bagian dari komitmen untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan rehabilitasi yang layak.

Kini, setelah belenggu fisik terlepas, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Dinsos Jatim telah memetakan jalur pemulihan yang presisi. Setelah mendapatkan penanganan medis intensif, keempat individu ini tidak akan langsung dikembalikan ke rumah.

Mereka akan diboyong ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinsos Jatim untuk menjalani rehabilitasi sosial. Di sana, mereka akan diajarkan kembali cara berinteraksi dan menjalani aktivitas sehari-hari, agar kelak saat kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan individu yang mandiri dan berdaya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *