Jalan Pulang yang Tak Selalu Mudah, Kisah Orang-Orang Terlantar yang Akhirnya Kembali ke Keluarga Berkat Sahabat Pulang Dinsos Jatim

Tim Sahabat Pulang Dinsos Jatim saat memfasilitasi pemulangan orang terlantar ke daerah asal kembali ke keluarganya.

9Sapapublik – Tidak semua perjalanan pulang dimulai dengan tiket di tangan atau pelukan keluarga yang menanti. Sebagian justru berawal dari trotoar, terminal, rumah sakit, hingga jalanan yang ramai tanpa tujuan. Ada yang ditemukan terbaring sakit, ada yang berjalan tanpa busana, ada pula yang berhari-hari mengikuti suara-suara di kepalanya hingga tersesat ratusan kilometer dari rumah.

Bagi mereka, kata “pulang” bukan sekadar kembali ke alamat asal. Pulang berarti kembali memiliki identitas, keluarga, dan harapan.

Bacaan Lainnya

Di balik proses itu, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur melalui Tim Sahabat Pulang menjadi jembatan yang menghubungkan kembali orang-orang terlantar dengan keluarga maupun pemerintah daerah asal. Bukan hanya mengantar mereka kembali, tetapi memastikan setiap orang mendapatkan perlindungan, pengobatan, hingga pendampingan sosial yang layak.

Riki, Stroke yang Membawanya Terlantar di Terminal

Terminal di Kabupaten Situbondo menjadi titik awal kisah Riki Arif Wijaya, 45 tahun. Pada 21 Juni 2026, ia ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya melemah akibat stroke dan nyaris tidak mampu berkomunikasi.

Petugas segera membawanya ke RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia mengalami stroke sehingga tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Selama menjalani perawatan, Riki bahkan harus menggunakan selang sonde untuk memenuhi kebutuhan makan.

Tak banyak informasi yang bisa diperoleh langsung darinya. Identitas Riki kemudian ditelusuri melalui pemeriksaan biometrik oleh Dinas Sosial Kabupaten Situbondo. Dari proses itulah diketahui bahwa ia pernah tinggal di Palembang, memiliki istri dan anak, namun hubungan keluarga telah lama terputus.

Riki sempat menyatakan enggan kembali kepada anak dan istrinya karena persoalan keluarga yang pernah dialami. Namun komunikasi lintas daerah terus dilakukan. Setelah berbagai koordinasi, keluarga akhirnya bersedia menjemput bersama Dinas Sosial Kabupaten Purbalingga dan Baznas Kabupaten Purbalingga untuk merawatnya.

Perjalanan Riki menuju Jawa Tengah didampingi Tim Sahabat Pulang Dinas Sosial Jawa Timur. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar memindahkan seseorang dari satu provinsi ke provinsi lain, melainkan mengembalikan seorang ayah kepada keluarganya.

Giyani, Wahyu dan Isma yang Mendapat Kesempatan Memulai Lagi

Di hari yang sama, tiga warga asal Jawa Tengah juga diberangkatkan menuju daerah asalnya. Giyani, perempuan berusia 28 tahun, sebelumnya hidup sebagai gelandangan.

Tidak banyak cerita yang tersisa tentang bagaimana ia bisa berada jauh dari rumah. Namun melalui proses asesmen dan koordinasi antar-dinas sosial, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali ke lingkungan asalnya.

Sementara Wahyu Kurniawan, 33 tahun, dan Isma Kurnia Dewi, 22 tahun, merupakan penyandang disabilitas mental. Kondisi mereka membutuhkan pendampingan khusus agar proses pemulangan berlangsung aman sekaligus memastikan layanan lanjutan dapat diterima setelah tiba di daerah asal.

Wahyu Gunawan, Ketergantungan Bau Bensin yang Mengubah Hidupnya

Cerita berbeda datang dari Wahyu Gunawan, pemuda asal Kabupaten Bandung. Ia ditemukan warga di Kabupaten Trenggalek dalam kondisi menghirup bensin. Kebiasaan tersebut telah berkembang menjadi kecanduan hingga beberapa kali membuat warga sekitar merasa terganggu.

Setelah diamankan Dinas Sosial Kabupaten Trenggalek, Wahyu menjalani perawatan kejiwaan di rumah sakit daerah. Ketika kondisinya mulai stabil, ia dirujuk ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk dipulangkan ke Jawa Barat agar dapat melanjutkan penanganan bersama keluarga dan pemerintah daerah setempat.

Krismanto, Berjalan Mengikuti Bisikan

Krismanto berasal dari Kabupaten Cirebon. Namun suatu hari ia berjalan meninggalkan rumah mengikuti bisikan yang didengarnya.

Perjalanan itu membawanya hingga Surabaya, ratusan kilometer dari tempat tinggalnya. Di kota tersebut ia kemudian diamankan Satpol PP dan dirujuk ke UPTD Liponsos Kota Surabaya.

Setelah mendapatkan penanganan awal, Tim Sahabat Pulang memfasilitasi kepulangannya menuju Jawa Barat agar proses rehabilitasi dapat dilanjutkan lebih dekat dengan keluarga.

Titi, Lansia yang Tak Lagi Memiliki Tempat Bernaung

Di usia 72 tahun, Titi Supartinah datang ke Surabaya dengan harapan bisa tinggal bersama kerabat. Harapan itu pupus. Saudara yang didatangi tidak bersedia menampungnya. Tanpa tempat tinggal, Titi akhirnya berjalan menuju Dinas Sosial Kota Surabaya untuk meminta pertolongan.

Ia kemudian dirujuk ke UPTD Liponsos Kota Surabaya hingga akhirnya dipulangkan ke Jawa Barat melalui koordinasi antar-dinas sosial.

Yohanes dan Persoalan Administrasi yang Berujung Pemulangan

Yohanes Christoper bukan ditemukan di jalanan, melainkan merupakan pasien RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Ketika pembiayaan kesehatannya tidak lagi dapat ditanggung karena persoalan administrasi BPJS, proses pemulangannya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui koordinasi lintas instansi.

Melalui Tim Sahabat Pulang, Yohanes akhirnya dapat kembali ke daerah asalnya di Kota Bandung agar memperoleh pendampingan lanjutan.

Ucin, Ditemukan Tanpa Busana di Jalan Raya

Kisah Ucin menjadi salah satu yang paling menyita perhatian. Pria asal Kabupaten Karawang itu ditemukan berjalan tanpa busana di jalan raya Kabupaten Trenggalek. Kondisinya membuat warga resah sehingga Dinas Sosial segera melakukan evakuasi.

Setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan kesehatan jiwa di rumah sakit hingga emosinya stabil, Ucin kemudian dipulangkan ke Jawa Barat agar mendapatkan penanganan lanjutan bersama keluarga.

Jalan Pulang yang Dijaga Negara

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani, menegaskan bahwa setiap warga yang mengalami kondisi terlantar berhak memperoleh pelayanan sosial sesuai kebutuhannya.

Menurutnya, penanganan yang cepat dan tepat menjadi bagian penting agar mereka kembali memperoleh perlindungan dan memiliki kesempatan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Pendampingan yang dilakukan Tim Sahabat Pulang tidak berhenti ketika kendaraan tiba di tujuan. Tanggung jawab kemudian diteruskan kepada Dinas Sosial provinsi dan kabupaten/kota asal untuk proses reunifikasi keluarga, pengasuhan, pengobatan, perlindungan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar.

Dalam dua hari berturut-turut, Tim Sahabat Pulang memfasilitasi pemulangan sedikitnya sembilan orang terlantar dan rentan ke Jawa Tengah serta Jawa Barat. Angka itu mungkin hanya statistik di atas kertas. Namun bagi sembilan orang tersebut, perjalanan itu adalah awal dari kesempatan kedua untuk kembali menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat.

Sebab, bagi orang-orang yang pernah kehilangan arah, rumah bukan hanya sebuah bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang masih dipanggil dengan namanya, diterima kembali, dan diberi kesempatan untuk memulai hidup dari awal.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *