Menjaga Denyut Logistik, Begini Cara TPS Pastikan Layanan Tetap Prima Meski Sistem Terganggu

Tim Operasional TPS sedang melakukan koordinasi pada simulasi drill BCMS.

Inti Berita:

  • Simulasi Krisis: PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar drill Business Continuity Management System (BCMS) untuk menguji kesiapan operasional manual saat sistem digital (SOT) mengalami gangguan.
  • Kolaborasi Lintas Fungsi: Simulasi ini melibatkan tim operasional, IT, hingga koordinasi dengan pihak eksternal seperti Bea Cukai dan Otoritas Pelabuhan demi menjaga kelancaran arus barang.
  • Komitmen Layanan: Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa setiap personel paham peran mereka, sehingga target waktu pemulihan (Recovery Time Objective) tetap terpenuhi tanpa mengganggu logistik nasional.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya:

Di Balik Layar Kesiapan TPS Menghadapi Kondisi Darurat

Surabaya, Sapapublik – Pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi jika sistem digital di terminal petikemas tiba-tiba berhenti berfungsi? Di era modern, ketergantungan pada sistem operasi adalah keniscayaan, namun bagi PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), ketergantungan tersebut harus dibarengi dengan rencana cadangan yang matang.

Pada Kamis (2/4) lalu, TPS membuktikan komitmennya dengan menggelar simulasi besar bertajuk Business Continuity Management System (BCMS) Drill. Fokus utamanya sederhana namun krusial: memastikan roda operasional terminal tidak berhenti sedetik pun, bahkan saat Sistem Operasi Terminal (SOT) mengalami kendala.

Bukan Sekadar Latihan Rutin

Simulasi kali ini mengambil skenario gangguan pada layanan receiving (penerimaan) dan discharge (pembongkaran). Dalam kondisi normal, semua tercatat secara otomatis. Namun dalam drill ini, seluruh tim dipaksa beralih ke mode manual.

Petugas di lapangan mulai mengaktifkan prosedur Business Continuity Plan (BCP). Mereka melakukan pencatatan transaksi secara manual, mengatur area penumpukan alternatif, hingga memanfaatkan data cadangan agar pelayanan kepada pengguna jasa tidak terhambat.

Setelah simulasi dianggap cukup, tim IT kemudian mendemonstrasikan bagaimana data manual tersebut dipulihkan kembali ke dalam sistem digital setelah kondisi dinyatakan normal.

Sinergi Manusia dan Prosedur

Senior Vice President (SVP) Operasi Terminal TPS, Didik Kurniawan, menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, namun manusialah penggerak utamanya. Menurutnya, tujuan utama drill ini adalah penyelarasan pemahaman di antara seluruh “insan TPS”.

“Kami ingin memastikan setiap personel tahu persis apa tanggung jawab mereka saat kondisi tidak normal. Dengan kesiapan ini, operasional terminal diharapkan tetap aman, tertib, dan terkendali,” ujar Didik.

Menariknya, simulasi ini tidak hanya terjadi di lingkup internal TPS. Karena pelabuhan adalah ekosistem yang luas, TPS juga mensimulasikan koordinasi dengan pihak eksternal, termasuk Otoritas Pelabuhan, Bea Cukai, serta perusahaan pelayaran. Koordinasi yang solid inilah yang menjadi kunci mitigasi dampak gangguan.

Evaluasi Demi Kelancaran Logistik Nasiona

Setelah seluruh rangkaian simulasi berakhir, agenda tidak langsung usai. TPS melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengukur Recovery Time Objective (RTO), yakni seberapa cepat sistem dan layanan bisa kembali normal.

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan di lingkungan Pelindo Group. Dengan melakukan drill BCMS secara berkala, TPS tidak hanya menjaga reputasi perusahaan, tetapi juga menjaga denyut nadi logistik nasional agar tetap stabil di tengah ketidakpastian teknis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *