Inti Berita:
- Kontribusi Nyata PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS): TPS menyalurkan 3.000 bibit mangrove siap panen untuk merehabilitasi kawasan wisata pesisir Sontoh Laut, Greges, Kecamatan Asem Rowo, Kota Surabaya.
- Hasil Panen Berkelanjutan: Ribuan bibit ini merupakan bagian dari program budidaya mandiri total 10.000 bibit mangrove yang dirintis TPS sejak Oktober 2025 dan memasuki masa panen pada Mei 2026.
- Kolaborasi dan Pemberdayaan Ekosistem: Aksi lingkungan yang melibatkan sekitar 400 peserta ini menggunakan sistem 1.000 ajir khusus serta menggerakkan ekonomi lokal melalui konsumsi dari UMKM warga pesisir.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya
Membaca Arah Angin Pesisir Surabaya
Sapapublik – Kawasan pesisir selalu menyimpan cerita tentang pertarungan melawan waktu, abrasi, dan dampak perubahan iklim global. Di tengah tantangan tersebut, sebuah langkah humanis dan terstruktur lahir dari komitmen berkelanjutan korporasi.
PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) tidak sekadar melihat pesisir sebagai batas wilayah operasional logistik, melainkan sebagai ekosistem hidup yang harus terus dirawat dan diwariskan dalam kondisi terbaik bagi generasi mendatang.
Tepat pada Minggu, 10 Mei 2026, fajar baru saja menyingsing ketika riak air di kawasan wisata Sontoh Laut, Greges, Kecamatan Asem Rowo, Kota Surabaya mulai dipadati masyarakat. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun semangat kolektif sudah membuncah.
Titik kumpul wisata Sontoh Laut menjadi saksi dimulainya gerakan bersama bertajuk “Hijaukan Pesisir, Lestarikan Kehidupan”. Sebuah aksi nyata yang meleburkan sekat antara unsur pemerintah, BUMN, TNI-Polri, kalangan akademisi, komunitas peduli lingkungan, hingga masyarakat lokal pesisir.
Dari Pembibitan Mandiri Menuju Panen Ekologis
Cerita hijau ini sebenarnya tidak tumbuh dalam semalam. Apa yang ditanam pada hari Minggu tersebut merupakan buah dari ketekunan jangka panjang yang diinisiasi oleh TPS.
Mundur ke belakang pada Oktober 2025, TPS memulai sebuah program ambisius berupa penanaman mandiri sebanyak 10.000 bibit mangrove. Selama berbulan-bulan dirawat, dedaunan dan akar-akar kokoh tersebut akhirnya memasuki masa siap panen pada Mei 2026.
Hasil panen mandiri ini tidak dibiarkan menumpuk, melainkan didistribusikan secara bertahap untuk menyembuhkan wilayah-wilayah pesisir Surabaya yang rentan. Dari total panen besar tersebut, sebanyak 3.000 bibit mangrove dialokasikan secara khusus untuk memperkuat ekosistem di kawasan Sontoh Laut, Kecamatan Asem Rowo.
Bukan sekadar menancapkan batang ke dalam lumpur, metode yang diterapkan dalam aksi ini dirancang dengan presisi ilmiah yang matang. Sebanyak total sekitar 400 peserta yang turun ke lapangan bahu-membahu menerapkan sistem ajir. TPS memfasilitasi penyediaan 1.000 ajir sebagai penyangga utama.
Aturannya ketat dan terukur demi keberlanjutan: setiap 1 ajir kayu ditanami oleh tepat 3 bibit mangrove. Skema ini dipilih agar pola pertumbuhan tanaman menjadi jauh lebih optimal, kokoh menghadapi terjangan ombak, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sinergi Lingkungan dan Denyut Nadi Ekonomi Lokal
Restorasi lingkungan yang digagas oleh TPS terbukti tidak berjalan secara eksklusif. Perusahaan memahami bahwa menjaga alam harus berjalan beriringan dengan menyejahterakan manusianya. Oleh karena itu, seluruh kebutuhan konsumsi bagi sekitar 400 peserta yang terlibat sepenuhnya dibeli dari pelaku UMKM warga masyarakat di sekitar Sontoh Laut.
Setiap relawan dan peserta yang hadir diberikan kupon khusus untuk ditukarkan dengan paket konsumsi lokal. Pendekatan integratif ini menjadi bukti nyata bagaimana program Corporate Social Responsibility (CSR) lingkungan mampu memicu perputaran ekonomi instan bagi masyarakat perikanan dan pesisir setempat.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menegaskan bahwa program penanaman dan penyaluran bibit mangrove ini adalah jangkar utama dari komitmen korporasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Erika merinci kembali lini masa program ini, di mana sejak Oktober 2025, TPS secara konsisten mengawal pertumbuhan 10.000 bibit mangrove. Memasuki bulan ini, ketika bibit-bibit tersebut telah dinyatakan siap panen, penyaluran pun langsung didistribusikan ke sejumlah titik krusial.
Alokasi khusus 3.000 bibit ke Sontoh Laut, Kecamatan Asem Rowo, diproyeksikan menjadi benteng hijau baru dalam memperkuat perlindungan pesisir serta menjaga kekayaan ekosistem laut Surabaya.
Lebih jauh, Erika menambahkan bahwa vegetasi mangrove memegang posisi yang sangat strategis. Perannya berdimensi ganda; bukan hanya menjadi tameng alami dalam menghalau laju abrasi dan meredam dampak buruk perubahan iklim, tetapi juga berfungsi sebagai struktur penopang kehidupan sosio-ekonomi harian bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di wilayah pesisir.
Penyelamatan hutan payau ini membutuhkan napas panjang serta kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Melalui sinergi erat yang terbangun di Sontoh Laut, TPS optimis kontribusi ini akan melahirkan manfaat ekologis, sosial, sekaligus ekonomi yang dapat terus dipanen oleh masa depan.






