Inti Berita:
- Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Disnakertrans Jatim tepatnya UPT BLK Surabaya menggelar pelatihan berbasis kompetensi untuk menekan angka pengangguran yang mencapai sekitar 3,71 persen.
- DPRD Jatim menyoroti pentingnya keterhubungan (link and match) antara pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri agar lulusan SMK tidak banyak menganggur.
- Akses permodalan melalui Bank Jatim dan skema pembiayaan lain dinilai krusial agar peserta pelatihan mampu menciptakan lapangan kerja mandiri.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya:
Pelatihan Kompetensi Jadi Strategi Tekan Pengangguran
Surabaya, Sapapublik – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) khususnya UPT BLK Surabaya terus memperkuat upaya penurunan angka pengangguran dengan menggelar pelatihan berbasis kompetensi, Senin (13/4/2026). Program ini menjadi bagian dari implementasi visi gubernur dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap kerja.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Rasiyo, menegaskan bahwa tingginya angka pengangguran yang mencapai sekitar 3,71 persen memang sudah seharusnya ditangani dengan pendekatan berbasis keterampilan.
Menurutnya, bekerja tidak cukup hanya dengan kemauan, tetapi harus didukung kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Sorotan pada Lulusan SMK dan Kebutuhan Industri
Rasiyo juga menyoroti fenomena tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK. Padahal, pendidikan kejuruan dirancang untuk mencetak tenaga siap kerja.
Ia menilai ada ketidaksesuaian antara jurusan yang dipelajari dengan kebutuhan industri. Karena itu, ia mendorong adanya penguatan konsep *link and match* antara dunia pendidikan dan dunia usaha/industri.
“Pendidikan harus terhubung dengan kebutuhan industri. Kalau tidak, lulusan akan kesulitan terserap,” ujarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
;
Data dan Sinergi Antar Lembaga Jadi Kunci
Selain itu, Rasiyo menekankan pentingnya validitas data pengangguran hingga tingkat RT/RW. Menurutnya, data yang akurat akan membantu pemerintah dalam menyusun program pelatihan yang tepat sasaran.
Ia juga mendorong sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota, termasuk keterlibatan Kementerian Ketenagakerjaan dan perangkat daerah.
“Yang paling tahu kondisi riil itu justru di tingkat bawah, RT dan RW. Data ini harus terhubung,” katanya.
Akses Modal Jadi Tantangan Nyata
Tak hanya soal keterampilan, persoalan klasik yang dihadapi lulusan pelatihan adalah akses permodalan. Untuk itu, Disnaker Jatim menghadirkan Bank Jatim guna membuka peluang pembiayaan usaha, termasuk melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Namun, Rasiyo mengakui bahwa akses kredit masih memiliki tantangan, seperti persyaratan agunan. Ia mendorong adanya skema yang lebih fleksibel agar lulusan pelatihan bisa langsung membuka usaha.
“Kalau sudah punya keterampilan, tapi tidak ada modal, tetap sulit. Ini yang harus dicarikan solusi bersama,” tegasnya.
Harapan: Dari Pencari Kerja Jadi Pencipta Lapangan Kerja
Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap para peserta tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja secara mandiri.
Dengan kombinasi keterampilan, sertifikasi, dan dukungan akses modal, Disnaker Jatim optimistis program ini dapat menjadi solusi nyata dalam mengurangi pengangguran di Jawa Timur.
Peluang Kerja hingga Luar Negeri
Menariknya, lulusan pelatihan ini juga memiliki peluang bekerja di luar negeri secara resmi. Rasiyo menyebut beberapa negara seperti Jepang dan Korea membuka peluang bagi tenaga kerja terampil dengan gaji yang kompetitif.
Namun, ia mengingatkan pentingnya mengikuti jalur resmi melalui pemerintah untuk menghindari penipuan atau penempatan kerja ilegal.
“Kalau kompetensinya bagus, peluang kerja terbuka luas, bahkan sampai luar negeri,” ujarnya.
BLK Surabaya Latih 144 Peserta
Sementara itu, Kepala UPT BLK Surabaya, Isman Widodo, menjelaskan bahwa pelatihan berbasis kompetensi gelombang kedua tahun 2026 diikuti oleh 144 peserta yang terbagi dalam sembilan paket pelatihan terdiri masyarakat pencari kerja terdiri dari pengangguran dan setengah pengangguran.
Program ini mencakup berbagai kejuruan, seperti Teknisi Mekatronika, Plate Welder FCAW 3G UP/PF, Pengoperasian Instalasi Kontrol Industri Berbasis PLC, Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Off Grid, Operator Forklift, Desain Grafis Madya, Junior Sekretaris, English For Frontline, dan Asisten Teknisi Refrigerasi dan AC,
Metode pengajaran dilakukan dengan metode klasikal dan praktik langsung. Peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat kompetensi dan berkesempatan mengikuti uji sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).






