Langkah Proaktif BPBD Jatim Menghapus Kerentanan Perempuan Melalui Edukasi Kebencanaan

Komunitas ibu-ibu Muslimat NU Kota Surabaya yang melakukan kunjungan pembelajaran kebencanaan di Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, Senin (8/6/2026).

Inti Berita:

  • Edukasi 100 Anggota Muslimat NU: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur membekali sekitar 100 anggota Muslimat NU Kota Surabaya dengan keterampilan simulasi gempa, pemadaman kebakaran, hingga Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD).
  • Fokus pada Kelompok Rentan: Pelatihan mitigasi secara khusus menyasar kelompok perempuan karena secara statistik mereka bersama anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban saat bencana alam melanda.
  • Mitigasi Lingkungan Berkelanjutan: Selain pelatihan fisik dan teori, instansi menyalurkan tepat 100 bibit pohon produktif (jambu, alpukat, dan kelengkeng) sebagai aksi nyata menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya

Memutus Rantai Kerentanan Perempuan di Pusaran Bencana

Sapapublik – Suara sirine simulasi sesekali memecah keheningan di area Taman Edukasi Bencana BPBD Jawa Timur pada Senin, 8 Juni 2026. Di tengah teriknya cuaca, sekitar 100 perempuan paruh baya mengenakan seragam hijau khas Muslimat NU Kota Surabaya berkumpul dengan satu tujuan yaitu tidak ingin lagi sekadar menjadi korban pasrah saat alam sedang tidak bersahabat.

Perwakilan yang datang dari jajaran Pimpinan Cabang (PC) hingga pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) tingkat kecamatan ini sadar bahwa keselamatan tidak bisa dititipkan pada nasib.

Pihak BPBD Jatim melihat fenomena ini sebagai titik balik yang krusial. Selama ini, catatan kebencanaan selalu menempatkan kaum perempuan dan anak-anak pada daftar korban paling atas akibat minimnya akses informasi dan pelatihan penyelamatan diri. Melalui langkah taktis ini, lembaga berupaya membalikkan keadaan dengan mengubah kelompok rentan menjadi garda terdepan penyelamat keluarga.

Memanfaatkan Fasilitas Simulator Gempa dan Tenda Pendidikan

Sekretaris BPBD Jatim, Andhika Nurrahmad Sudigda, bersama Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Deni Kiki Melia Tamara, menyambut antusiasme tinggi para ibu tersebut.

Pelatihan tidak berjalan kaku di dalam ruang kelas. Para peserta langsung diarahkan untuk menjajal fasilitas mutakhir secara riil.

Mereka secara bergantian naik ke atas simulator gempa bumi guna merasakan getaran sekaligus mempraktikkan metode perlindungan kepala yang benar, serta masuk ke dalam Tenda Pendidikan Bencana.

Ketua PC Muslimat NU Kota Surabaya, Hj. Lilik Fadhilah, tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya. Baginya, ketersediaan simulator gempa dan fasilitas ramah publik ini menjadi kejutan besar yang membuka mata banyak pihak mengenai kesiapan infrastruktur daerah.

Materi penunjang lain seperti Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan simulasi pemadaman api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dilahap habis oleh peserta. Sulinah, salah satu pengurus PAC dari Kecamatan Gunung Anyar, bahkan turun langsung memegang selang pemadam untuk memadamkan kobaran api buatan.

Pengalaman empiris ini memberikan rasa percaya diri baru bagi para ibu bahwa mereka mampu mengambil keputusan cepat di menit-menit awal terjadinya bencana.

Belajar dari Jepang, Mandiri Melalui Anggaran Mandiri APBD

Urgensi kemandirian masyarakat ini diperkuat oleh fakta internasional yang dipaparkan oleh pihak BPBD Jatim. Merujuk pada hasil survei kebencanaan resmi di Jepang, data menunjukkan bahwa mayoritas korban yang selamat dari bencana besar berhasil bertahan hidup karena faktor kapasitas dan kemampuan diri mereka sendiri.

Kontribusi bantuan dari regu penolong atau tim SAR justru menempati persentase yang jauh lebih kecil pada fase kritis awal bencana. Komitmen penguatan mitigasi di wilayah Jawa Timur ini tidak lepas dari intervensi kebijakan strategis berbasis anggaran.

Salah satu contoh nyata yang mengemuka adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar beberapa waktu lalu guna mengendalikan cuaca ekstrem. Berbeda dengan provinsi lain di Indonesia yang masih bergantung penuh pada kucuran dana pemerintah pusat, Jawa Timur mengandalkan sokongan dana mandiri yang bersumber langsung dari APBD Provinsi atas arahan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Intervensi teknologi cuaca berbasis anggaran daerah ini terbukti ampuh meredam potensi bencana hidro-meteorologi, sehingga aktivitas publik selama masa libur lebaran berjalan kondusif.

Menjaga Alam Lewat Tepat 100 Bibit Pohon Produktif

Edukasi diakhiri dengan pendekatan holistik yang menyentuh aspek ekologi. Menyadari bahwa penanggulangan bencana harus dihulu melalui pelestarian lingkungan, BPBD Jatim menyerahkan paket bantuan sebanyak tepat 100 bibit pohon produktif kepada seluruh peserta. Komposisi bantuan hijau ini terdiri dari bibit pohon jambu, alpukat, dan kelengkeng

Penyerahan pohon ini mengukuhkan pesan utama bahwa mitigasi struktural melalui simulasi harus berjalan beriringan dengan mitigasi vegetatif. Setiap ibu yang pulang kini tidak hanya membawa pengetahuan penyelamatan diri di kepala mereka, namun juga memikul bibit tanaman di tangan mereka untuk ditanam di wilayah masing-masing sebagai ikhtiar merawat bumi secara berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *