Inti Berita:
- IKWI PWI Jawa Timur menjadi motor penggerak literasi digital bagi perempuan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan penyaringan informasi (filter hoaks) di rumah.
- Ketua TP PKK Jatim, Arumi Bachsin, memperingatkan risiko keamanan siber bagi anak dan pentingnya pembatasan privasi di media sosial.
- PWI Jawa Timur menyoroti “darurat kompetensi” jurnalisme dan pentingnya sertifikasi (UKW) untuk mencegah kecelakaan informasi di ruang publik.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Gerakan Sinergi Era Siber
Surabaya, Sapapublik – Dunia digital hari ini ibarat jalan raya yang sangat padat. Namun, tidak semua pengendaranya memiliki “SIM” atau pemahaman yang cukup untuk berkendara dengan aman.
Fenomena inilah yang menjadi sorotan utama dalam forum literasi digital yang digelar oleh Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jawa Timur dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah gerakan sinergi antara IKWI, TP PKK, dan PWI untuk menjawab tantangan era siber yang kian kompleks.
Ibu sebagai Garda Terdepan Ketahanan Siber
Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, yang hadir sebagai keynote speaker, memberikan perspektif yang humanis. Menurutnya, meski teknologi menghapus sekat informasi, ia tetaplah pisau bermata dua. Arumi menyoroti betapa rentannya anak-anak, terutama remaja perempuan, terhadap risiko keamanan jika terlalu bebas mengumbar privasi.
“Jika kita tidak bisa mengontrol emosi dan diri, media sosial akan merusak kehidupan pribadi,” tutur Arumi. Ia mengajak para orang tua untuk tidak abai dan memberikan pendampingan ketat agar anak-anak tidak menjadi korban cyberbullying maupun cyber grooming.
Senada dengan Arumi, Ketua IKWI Jawa Timur, Endang Suprapti, menegaskan bahwa lembaganya berkomitmen penuh menjadikan perempuan sebagai “pengendali” di ruang siber. Di tangan seorang ibu, informasi yang masuk ke rumah harus disaring ketat. IKWI setuju bahwa anak di bawah umur sebaiknya tidak memiliki akun media sosial sendiri tanpa pengawasan, karena “alarm” terbaik dalam keluarga adalah kehadiran orang tua yang melek digital.
Menertibkan “Lalu Lintas” Informasi
Di sisi lain, profesionalisme pers juga menjadi pertaruhan. Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, memberikan perumpamaan yang tajam mengenai kondisi media saat ini. Ia menyayangkan banyaknya pihak yang bisa menulis berita, namun tidak memiliki sertifikasi kompetensi (UKW).
“Banyak yang bisa menyetir, tapi tidak punya SIM. Akibatnya, sering terjadi kecelakaan informasi atau hoaks yang merugikan masyarakat,” jelas Lutfil. PWI Jatim terus mendorong regulasi ketat agar kecepatan berita tidak mengorbankan etika dan kebenaran.
Sinergi untuk Ekosistem Digital yang Sehat
Dukungan domestik dari keluarga wartawan (IKWI) dianggap krusial agar para jurnalis dapat bekerja secara bertanggung jawab. Forum ini juga diperkaya oleh pemikiran para tokoh lain seperti Sri Untari Bisowarno (Ketua Komisi E DPRD Jatim), Dr. Eko Pamuji (PWI Pusat), dan perwakilan Diskominfo Jatim.
Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, Jawa Timur diharapkan tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga memiliki masyarakat yang cerdas memilah informasi dan keluarga yang tangguh menghadapi badai digital.






