Inti Berita
- Inovasi Kurikulum Kontekstual: PKBM Budi Utama mengintegrasikan mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, dan Biologi melalui Program Sekolah Aliran Sungai dengan rute sejauh dermaga baru PKBM Budi Utama hingga Terminal Joyoboyo.
- Kolaborasi Lintas Generasi: Kegiatan susur sungai ini melibatkan puluhan siswa Kejar Paket A, B, dan C, didampingi langsung oleh orang tua murid serta mahasiswa semester 6 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
- Misi Pelestarian Jangka Panjang: Program ini dirancang sebagai basis penilaian muatan lokal untuk mencetak generasi masa depan yang sadar lingkungan sekaligus menghentikan kebiasaan membuang sampah di sungai demi menjaga pusat peradaban.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Jarum jam tepat menunjukkan pukul 10.00 WIB ketika permukaan air sungai Surabaya mulai terbelah oleh kayuhan perahu. Di atasnya, puluhan anak-anak mengenakan jaket pelampung jingga dengan senyum merekah. Riuh tawa mereka menyatu dengan gemercik air, mengubah suasana sungai yang biasanya sunyi menjadi ruang kelas alam yang penuh energi.
Hari itu, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Budi Utama menolak cara belajar konvensional. Mereka tidak duduk di balik meja menyalin papan tulis. Sebaliknya, lembaga pendidikan non-formal ini memboyong para peserta didiknya turun langsung ke air melalui Program Sekolah Aliran Sungai. Mengambil rute dari dermaga baru PKBM Budi Utama hingga di Terminal Joyoboyo dan kembali lagi ke dermaga PKBM Budi Utama, perjalanan ini menjadi sebuah petualangan edukasi yang mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan.
Tidak hanya anak-anak dari jenjang Kejar Paket A, B, dan C yang ikut serta. Di antara deretan pelampung, tampak pula para orang tua murid serta mahasiswa semester 6 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang membaur menjadi satu.
Mengurai Rumus di Atas Arus Sungai
Ketua PKBM Budi Utama, Imam Rochani, memandang susur sungai ini sebagai langkah nyata membumikan teori-teori tebal yang ada di buku sekolah. Menurutnya, sungai bukan sekadar saluran air pelengkap kota, melainkan laboratorium raksasa yang menyediakan ilmu tanpa batas.
“Banyak pembelajaran dan wawasan yang bisa didapat dengan susur sungai agar mengetahui sejauh mana pentingnya sungai untuk kehidupan manusia. Di sinilah ada bagian dari mata pelajaran IPA maupun IPS yang hidup di dalamnya,” jelas Imam di sela-sela kegiatan.
Metode belajar ini dirancang terus berkembang dan merambah ke berbagai disiplin ilmu. Dalam waktu dekat, PKBM Budi Utama akan menerapkan metode hitung sampah langsung untuk pelajaran Matematika, mengurai ekosistem air untuk pelajaran Biologi, hingga mengemasnya menjadi penilaian muatan lokal sekolah. Sungai kini resmi menjadi bagian dari rapor para siswa.
Langkah inovatif ini bahkan tidak berhenti di internal lembaga. PKBM Budi Utama tengah menyiapkan infrastruktur berupa perahu dan dermaga khusus untuk memperluas jaringan sosialisasi ke sekolah-sekolah lain di sepanjang bantaran sungai. Para guru kelas dan pembimbing akan dilatih terlebih dahulu agar program edukasi ini bisa direplikasi secara massal. Program ini pun diselaraskan dengan agenda Kali Bersih (Primasih) yang terus digalakkan oleh pemerintah.
Mencetak Pemutus Kebijakan Masa Depan
Ada misi besar jangka panjang yang sedang dititipkan Imam Rochani di pundak anak-anak didiknya. Ia sadar, kesadaran lingkungan tidak bisa tumbuh secara instan saat seseorang sudah dewasa. Pengalaman empiris menyusuri sungai inilah yang akan menjadi jangkar moral mereka di masa depan.
“Harapan kami, susur sungai ini bisa menjadikan siswa ke depan tetap ingat. Kelak jika mereka dewasa dan menjadi salah satu bagian dari pemutus kebijakan, mereka bisa mengingat bagaimana kondisi sungai saat mereka susur sungai dulu. Sungai adalah pusat peradaban kehidupan manusia,” urai Imam dengan penuh penekanan.
Urgensi menjaga kebersihan sungai ini bahkan memiliki landasan moral yang kuat, mengingat Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan tindakan membuang sampah secara sembarangan. Melalui program ini, PKBM Budi Utama ingin para siswanya pulang ke rumah masing-masing membawa bekal mentalitas baru untuk menyadarkan lingkungan sekitar mereka.
Inspirasi yang Menular hingga ke Bangku Kuliah
Dampak magis dari Sekolah Aliran Sungai ini dirasakan langsung oleh Marsha, mahasiswi semester 6 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Unesa yang ikut turun ke lapangan. Baginya, melihat langsung kondisi sungai Surabaya adalah sebuah momen pembuka mata yang tidak ia dapatkan di dalam ruang kuliah formal.
“Sungai itu sangat bermanfaat untuk menopang kehidupan, seperti untuk menyuplai air PDAM hingga kebutuhan operasional pabrik. Lewat Sekolah Aliran Sungai ini, ilmu yang diberikan kepada anak-anak akan jauh lebih melekat. Ketika mereka tahu fungsinya sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sadar untuk menjaga sungai agar tetap bermanfaat,” cerita Marsha.
Pengalaman mendampingi PKBM Budi Utama ini bahkan memicu mimpi baru di dalam benak Marsha. “Jujur, saya juga baru tahu kondisi riil sungai ketika ikut program yang ada PKBM ini. Nantinya, dengan mengambil pembelajaran dan ilmu dari PKBM ini maka bisa jadi selepas lulus dari Unesa, temen teman ada yang ingin membentuk lembaga Pendidikan Luar Sekolah (PLS) sendiri. Dari sinilah jadi tahu bagaimana cara mengembangkan konsep pendidikan berbasis lingkungan dan mengaplikasikannya nanti,” tambahnya optimis.
Suara dukungan juga menggema dari barisan orang tua. Ambar, warga Karah, Surabaya, yang ikut mendampingi anaknya, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi PKBM Budi Utama. Ia menaruh harapan besar agar Program Sekolah Aliran Sungai ini tidak menjadi agenda musiman, melainkan terus dijalankan demi kebaikan karakter anak-anak serta kelestarian ekosistem kota Surabaya ke depan.






