Inti Berita :
- Komitmen Pelayanan: Dinas Sosial Jawa Timur tetap menyiagakan personel dan layanan di hari libur untuk memfasilitasi pemulangan 13 warga telantar.
- Ragam Kondisi: Para penerima layanan terdiri dari 12 dewasa dan 1 anak yang terlantar akibat kehabisan bekal hingga menjadi korban penipuan kerja.
- Skema Estafet: Proses pemulangan dilakukan secara bertahap menggunakan transportasi bus melalui koordinasi lintas provinsi agar sampai ke tujuan dengan aman.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Dedikasi di Balik Meja Pelayanan Hari Libur
Surabaya, Sapapublik – Sabtu (28/3/2026) seharusnya menjadi waktu istirahat bagi sebagian besar pekerja. Namun, suasana di Ruang Pelayanan Terpadu Gedung B Dinas Sosial (Dinsos) Jatim justru tampak sibuk. Di sana, para petugas bersiaga penuh untuk memastikan 13 nyawa yang sedang kesulitan bisa segera kembali ke pelukan keluarga mereka.
Kepala Dinsos Jatim, Dra. Restu Novi Widiani, MM, menegaskan bahwa kemanusiaan tidak mengenal kalender merah. Baginya, penanganan orang telantar harus tetap optimal dan cepat tanpa harus menunggu hari kerja tiba.
Bukan Sekadar Pulang, Tapi Memulihkan Harapan
Kelompok warga yang dibantu kali ini membawa cerita pilu masing-masing. Ada yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena kehabisan ongkos, namun ada pula yang harus menelan pil pahit setelah menjadi korban penipuan lowongan pekerjaan.
Dari total 13 orang (termasuk satu anak kecil), 12 di antaranya difasilitasi penuh oleh negara, sementara satu orang lainnya memilih untuk pulang secara mandiri setelah mendapat pendampingan.
“Kami tidak hanya memfasilitasi tiket atau transportasi, tapi juga memastikan kebutuhan dasar mereka seperti makanan dan perlengkapan pribadi terpenuhi selama proses pelayanan,” ujar Novi.
Sinergi Estafet Antar-Provinsi
Memulangkan warga ke daerah asal seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Banten bukanlah perkara sederhana. Dinsos Jatim menerapkan sistem “estafet” menggunakan transportasi bus antar kota.
Strategi ini melibatkan koordinasi ketat lintas daerah untuk menjamin keamanan para penumpang hingga mereka benar-benar tiba di titik akhir.
Melalui langkah ini, Pemprov Jatim ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang merasa sendirian saat menghadapi kesulitan di tanah rantau, terutama di masa-masa sulit seperti saat kehilangan pekerjaan atau tertimpa musibah.






