Inti Berita:
- Lonjakan Drastis: Terjadi kenaikan kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) hingga 400%, dengan rata-rata 400-490 orang per hari menjelang Lebaran.
- Asal Domisili: Mayoritas PMI yang pulang berasal dari Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, dengan tujuan mudik terbanyak ke Madura, Madiun, Ponorogo, dan Blitar.
- Pengawasan Ketat: BP3MI Jatim, Disnakertrans Jatim dan Imigrasi memperketat pengawasan di Bandara Juanda untuk mencegah penempatan ilegal dan TPPO melalui skema pemeriksaan dokumen digital (e-KPMI).
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Surabaya, Sapapublik – Geliat mudik Lebaran mulai terasa di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda. Sejak pertengahan Maret, gelombang kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai negara penempatan terus mengalir deras.
Berdasarkan data dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur (Disnakertrans Jatim), atmosfer kepulangan tahun ini tercatat mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
Kepala BP3MI Jatim, Gimbar, mengungkapkan bahwa sejak dibukanya posko pemulangan pada 16 Maret lalu, terjadi lonjakan jumlah PMI hingga mencapai 400 persen.
Jika biasanya rata-rata harian hanya berkisar di angka seratusan, kini setiap harinya ada sekitar 400 hingga 490 pahlawan devisa yang mendarat di Surabaya untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.
Negara Asal dan Kantong PMI di Jawa Timur
Data menunjukkan bahwa arus kepulangan ini masih didominasi oleh para pekerja yang mengadu nasib di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Setibanya di Juanda, mereka akan melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing. Wilayah Madura, Madiun, Ponorogo, dan Blitar tetap menjadi daerah tujuan utama bagi para pekerja migran ini.
Meski sempat memuncak, per 26 Maret ini tren kepulangan mulai melandai dengan angka di bawah 100 orang per hari. Secara total, tercatat sebanyak 2.267 PMI telah difasilitasi oleh petugas, baik dalam bentuk pemberian informasi maupun bantuan teknis selama berada di bandara.
Benteng Pertahanan Melawan Penempatan Ilegal
Di balik euforia mudik dan nantinya arus balik, otoritas terkait tetap waspada terhadap praktik keberangkatan ilegal dan indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). BP3MI menegaskan bahwa setiap PMI yang menempuh jalur prosedural pasti dibekali dengan e-KPMI (Elektronik Kartu Pekerja Migran Indonesia).
Kartu digital ini bukan sekadar identitas; datanya telah terintegrasi langsung antara sistem Kementerian dengan pihak Imigrasi. “Jika ada yang hendak berangkat bekerja namun tidak memiliki e-KPMI, maka pihak Imigrasi akan melakukan pencegahan di pintu terakhir,” jelas Gimbar.
Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap warga negara yang bekerja di luar negeri terlindungi oleh hukum dan memahami kontrak kerja mereka melalui Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP).
Kolaborasi Lintas Sektoral di Pintu Gerbang Internasional
Bandara Juanda bukan hanya menjadi pintu masuk bagi warga Jawa Timur, tetapi juga menjadi titik transit bagi warga dari NTB, NTT, dan wilayah Jawa lainnya. Oleh karena itu, pengawasan tidak hanya dilakukan di bandara sebagai “hilir”, tetapi juga di “hulu” melalui penggerebekan penampungan ilegal jika ada laporan dari masyarakat.
Melalui sinergi antara BP3MI, Kepolisian, Angkasa Pura, hingga otoritas pertahanan, dengan pengawasan diperketat untuk menyaring mereka yang mencoba berangkat menggunakan visa wisata padahal bertujuan untuk bekerja.
Langkah tegas berupa penundaan keberangkatan akan diambil bagi mereka yang dokumennya tidak lengkap, demi menjamin keamanan dan keselamatan para pekerja migran di negara orang.

![ResizedImage_2026-03-25_21-09-14_2289[1]](https://sapapublik.com/wp-content/uploads/2026/03/ResizedImage_2026-03-25_21-09-14_22891-scaled-e1774450046722-200x112.webp)




