Inti Berita
- Tim Patroli Air Jawa Timur meluncurkan program “Rembuk Lingkungan”, mengubah pendekatan hukum yang kaku menjadi mitra dialog persuasif dan humanis bagi pelaku industri di sepanjang bantaran sungai.
- Perum Jasa Tirta (PJT) I mengamankan pasokan air baku hingga akhir tahun 2026 dengan mengacu pada mitigasi kemarau ekstrem tahun 2018, memprioritaskan alokasi darurat untuk PDAM dan irigasi pertanian.
- BBWS Brantas mengintegrasikan seluruh data perizinan industri legal ke dalam Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) guna membatasi kuota air secara ketat jika kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino terjadi.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Paradigma Baru di Tepian Sungai, Bukan Lagi Menjadi Momok Menakutkan
Sapapublik – Selama bertahun-tahun, deru mesin pabrik di sepanjang bantaran Kali Surabaya sering kali diidentikkan dengan ancaman limbah yang mengintai sumber air baku masyarakat. Namun, sebuah langkah progresif kini sedang dirajut di atas air.
Tim Patroli Air Provinsi Jawa Timur memilih untuk menurunkan ketegangan. Mereka tidak lagi hadir sebagai sosok yang mengintimidasi, melainkan meluncurkan sebuah terobosan humanis bertajuk “Rembuk Lingkungan”.
Koordinator Tim Patroli Air Jawa Timur, Imam Rochani, menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya kini membuka diri sepenuhnya untuk berkolaborasi dengan sektor industri. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang sama terhadap kelestarian sungai, mulai dari level manajemen puncak hingga karyawan di lantai produksi.
Melalui pendekatan persuasif ini, petugas memosisikan diri sebagai mitra dialog yang arif. Hubungan baru ini diwujudkan dalam aksi nyata seperti penanaman pohon massal di bantaran sungai, ekspedisi susur sungai bersama para pelaku usaha, hingga mendorong pendanaan mandiri (corporate social responsibility) dari perusahaan untuk memulihkan ekosistem lingkungan. Sinergi ini diharapkan mampu menekan angka pencemaran secara maksimal sekaligus menaikkan peringkat ketaatan lingkungan perusahaan.
Menjaga Pasokan di Tengah Ancaman El Nino, Belajar dari Tahun 2018
Aliran Kali Surabaya tidak sekadar mengalir, ia adalah urat nadi kehidupan domestik warga. Di tengah bayang-bayang kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino, Perum Jasa Tirta (PJT) I bergerak cepat mengamankan kuantitas dan ketersediaan air. Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Brantas III PJT I, Ariet Setiawan, memastikan bahwa kondisi pasokan air dari sektor hulu saat ini masih berada dalam status aman dan mencukupi hingga akhir tahun.
Sebagai langkah mitigasi taktis, PJT I tidak mau berspekulasi. Lembaga ini secara ketat mengacu pada cetak biru penanganan kemarau ekstrem yang pernah sukses diterapkan pada tahun 2018. Jika kondisi darurat kekeringan melanda, PJT I akan langsung memberlakukan skala prioritas tunggal, yaitu mengalokasikan air utama untuk kebutuhan PDAM dan irigasi sektor pertanian masyarakat.
Tidak hanya volume air yang dijaga, kualitasnya pun dipantau secara spartan melalui pengambilan sampel air berkala untuk diuji di laboratorium resmi. Melalui forum Rembuk Lingkungan ini, Ariet menuntut komitmen tertulis dan nyata dari pihak industri agar mematuhi regulasi pembuangan limbah sesuai baku mutu. Jika ditemukan indikasi pelanggaran di lapangan, PJT I bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas telah menyiagakan sistem respons cepat untuk melakukan sampling darurat dan evaluasi bersama secara langsung.
Saringan Ketat BBWS Brantas Melalui Rencana Alokasi Air Tahunan
Ketegasan juga datang dari otoritas pengelola wilayah sungai. Pada kesempatan yang sama, BBWS Brantas mengingatkan bahwa kepatuhan izin pemanfaatan air permukaan oleh sektor industri menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, terutama saat debit air menyusut di musim kemarau.
Ketua Pelaksanaan Urusan Perizinan Pemanfaatan dan Rekomendasi Teknis BBWS Brantas, Dimas, menjelaskan sebuah realita di lapangan yaitu petugas hanya memiliki legalitas dan kemampuan untuk mengontrol volume pengambilan air pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar legal serta taat hukum.
Untuk mengantisipasi krisis air yang lebih dalam, BBWS Brantas menerapkan strategi integrasi data. Seluruh data perizinan industri yang valid akan dimasukkan ke dalam sistem Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT). Melalui RAAT, lembaga ini dapat memprediksi ketersediaan air secara presisi dan memiliki hak penuh untuk membatasi kuota air bagi industri jika kekeringan mulai mengancam hulu hingga hilir.
Di akhir pemaparannya, Dimas memberikan jaminan penuh bahwa kebutuhan air domestik untuk warga akan selalu menjadi prioritas yang diselamatkan terlebih dahulu, sembari mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk mulai mengadopsi budaya hemat air dalam kehidupan sehari-hari.






