Inti Berita:
- Pemprov Jawa Timur menyiapkan skema kerja fleksibel ASN (WFH/WFA dan pengurangan hari kerja) untuk menghemat BBM.
- Kebijakan ini dipicu ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia.
- Simulasi dilakukan agar efisiensi tercapai tanpa mengganggu pelayanan publik dan produktivitas ASN.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya:
Surabaya, Sapapublik
Di tengah ketidakpastian global, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai bersiap menghadapi kemungkinan dampak krisis energi. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tersebut telah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Skema Kerja Fleksibel Mulai Disimulasikan
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim kini tengah mengkaji ulang pola kerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Tidak hanya sekadar wacana, berbagai simulasi mulai disiapkan, mulai dari pengurangan hari kerja menjadi empat, tiga, bahkan dua hari kerja dalam seminggu, hingga penerapan kombinasi kerja offline dan Work From Anywhere (WFA).
Namun, Khofifah menegaskan bahwa fleksibilitas ini bukan berarti kelonggaran tanpa batas. ASN yang bekerja dari rumah tetap dituntut menjaga produktivitas. “Tidak boleh dianggap cuti,” tegasnya, menekankan bahwa pelayanan publik harus tetap berjalan optimal.
Peran Wakil Gubernur dan Fokus Pelayanan Publik
Untuk memastikan kebijakan ini berjalan tepat sasaran, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, ditugaskan memimpin proses simulasi. Fokus utamanya adalah menemukan keseimbangan antara efisiensi energi dan keberlangsungan layanan publik, terutama di sektor vital seperti kesehatan dan pendidikan yang tidak bisa sepenuhnya dilakukan secara daring.
Emil menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya menyasar pengurangan mobilitas ASN, tetapi juga mengkaji secara menyeluruh konsumsi BBM dalam birokrasi, dimana semuanya dilihat baik secara langsung maupun tidak langsung.
Efisiensi Energi dan Inovasi Jangka Panjang
Dengan mengurangi perjalanan dinas dan aktivitas harian, pemerintah berharap bisa menekan penggunaan bahan bakar secara signifikan. Lebih dari itu, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Pemprov Jatim bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif seperti panel surya untuk mendukung efisiensi anggaran.
Dukungan DPRD dan Dampak Sosial
Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari legislatif. Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur, Muhammad Ashari, menilai bahwa skema kerja fleksibel seperti WFH merupakan langkah adaptif di tengah dinamika global. Ia juga mengapresiasi usulan dari Muhaimin Iskandar yang mendorong ASN bekerja dari rumah sebagai upaya menekan konsumsi BBM.
Menurut Ashari, selain menghemat energi, kebijakan ini juga berpotensi mengurangi kemacetan di wilayah perkotaan, sehingga memberikan dampak langsung pada kenyamanan masyarakat.
Menjaga Keseimbangan antara Efisiensi dan Layanan
Meski demikian, penerapan kebijakan ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ashari mengingatkan bahwa skema WFH harus selektif, terutama bagi posisi yang tidak bersinggungan langsung dengan pelayanan publik.
Dengan berbagai simulasi yang tengah disiapkan, Pemprov Jatim berupaya mencari formula terbaik apalagi demi menjaga stabilitas di tengah ancaman krisis energi tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada masyarakat.






