Khofifah Pacu Panen dan Percepatan Tanam di Madiun, Jatim Bidik Surplus Beras Berkelanjutan hingga Pasar Ekspor

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memimpin gerakan panen dan percepatan tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun.

Inti Berita:

  • Produksi padi Jawa Timur pada 2025 mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 9,77 juta ton.
  • Potensi produksi padi Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG atau meningkat sekitar 5,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
  • Pemprov Jatim mempercepat modernisasi pertanian melalui alsintan, pola tanam adaptif, penguatan irigasi, hingga mitigasi perubahan iklim untuk menjaga surplus beras dan membuka peluang ekspor.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya

Tak Sekedar Maksimalkan Produksi, Jadi Sinyal Bertahan dan Tumbuh

Sapapublik – Hamparan sawah di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat pagi (8/5/2026), menjadi saksi bagaimana Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong sektor pertanian bukan hanya sebagai penopang pangan daerah, tetapi juga sebagai kekuatan strategis nasional.

Di tengah aktivitas panen dan percepatan tanam, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memimpin gerakan yang disebutnya sebagai bagian penting menuju kedaulatan pangan berkelanjutan.

Bagi Khofifah, isu pangan hari ini tidak lagi sekadar soal kecukupan beras di meja makan masyarakat, melainkan juga menyangkut pertahanan dan stabilitas bangsa di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

“Tidak sekedar bagaimana kita memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tapi juga kita ingin menjadi bagian yang bisa membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan tapi berkedaulatan pangan berkelanjutan,” ujar Khofifah.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Angka Tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, Jawa Timur mencatat luas panen sebesar 1,84 juta hektare dengan produksi padi mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah tersebut meningkat 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 9,77 juta ton.

Tren positif itu diperkirakan terus berlanjut pada tahun ini. Dalam rilis BPS tertanggal 4 Mei 2026, potensi produksi padi Jawa Timur pada periode Januari hingga Juni 2026 diprediksi mencapai 6,62 juta ton GKG. Angka tersebut meningkat sekitar 5,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Khofifah menyebut capaian itu menjadi sinyal bahwa sektor pertanian Jawa Timur masih mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan perubahan iklim maupun dinamika ekonomi global.

“Ini artinya produktivitas pertanian Jawa Timur tetap tumbuh positif dan resilien di tengah berbagai tantangan global dan perubahan iklim. Insya Allah Jatim tetap menjadi tumpuan bagaimana ketahanan pangan program Pak Presiden Prabowo yang bisa diwujudkan secara berkelanjutan,” katanya.

Modernisasi Pertanian untuk Menarik Petani Muda

Di balik peningkatan produksi tersebut, Pemprov Jatim kini mulai menaruh perhatian besar pada modernisasi pertanian. Penggunaan alat dan mesin pertanian atau alsintan disebut menjadi salah satu kunci agar regenerasi petani dapat berjalan lebih cepat.

Khofifah menilai penggunaan teknologi pertanian modern seperti transplanter, rotavator, drone sprayer hingga combine harvester membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik bagi generasi muda.

“Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda sehingga mereka tidak semua ke kota, tapi mereka juga menjadi bagian dari penguat sektor pertanian,” ungkapnya.

Langkah modernisasi itu diperkuat melalui berbagai strategi percepatan tanam. Mulai dari pemanfaatan benih unggul bersertifikat tahan kekeringan, optimalisasi alsintan agar proses panen hingga tanam kembali berjalan cepat, penyusunan pola tanam adaptif berbasis teknologi dan mitigasi iklim, hingga penguatan irigasi melalui pompanisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

Selain itu, Pemprov Jatim juga memperkuat sistem pelaporan cepat apabila terjadi bencana alam maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Jawa Timur Jadi Penyangga Target Nasional

Plh. Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Tin Latifah menyebut pemerintah pusat telah memetakan target luas tanam nasional mencapai 16 juta hektare dalam satu tahun.

Dari target tersebut, Jawa Timur hingga Mei 2026 telah berkontribusi sebesar 238.000 hektare dari target nasional 1,7 juta hektare.

Menurutnya, prediksi kenaikan produksi padi Jawa Timur sebesar 5 persen pada Semester I 2026 sangat mungkin tercapai selama risiko puso akibat OPT dan kekeringan dapat dimitigasi.

“Oleh karena itu, kami mengajak serta seluruh pihak yang sudah ahli di masing-masing bidangnya kali ini. Jadi kami sangat yakin Provinsi Jawa Timur ini peningkatan produksinya tadi yang diprediksi 5% akan tercapai,” ujarnya.

Madiun Siap Jaga Surplus Beras Jatim

Kabupaten Madiun sendiri menjadi salah satu daerah penting penopang produksi padi Jawa Timur. Pada 2025, wilayah ini mencatat luas panen mencapai 82.826 hektare dengan produksi sebesar 480 ribu ton GKG.

Produktivitas rata-rata mencapai 5,80 ton per hektare dan bahkan di beberapa wilayah mampu menyentuh sekitar 7 ton per hektare.

Bupati Madiun Hari Wuryanto memastikan pihaknya siap mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan yang dijalankan pemerintah pusat maupun Pemprov Jatim.

“Kabupaten Madiun siap menjadi garda terdepan dalam menjaga surplus beras di Jawa Timur. Dengan segenap arahan dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah provinsi khususnya dalam menjaga stabilitas di tingkat petani agar mereka tetap terjamin saat hasil panennya melimpah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Pemprov Jawa Timur juga menyerahkan bantuan alsintan kepada kelompok tani di Kecamatan Balerejo. Bantuan itu terdiri dari tiga unit hand traktor singkal, empat unit cultivator, enam unit combine harvester besar, dan satu unit rotavator.

Bagi para petani di Madiun, bantuan tersebut bukan sekadar alat pertanian. Di tengah target besar menjaga surplus pangan hingga membuka peluang ekspor beras ke pasar global, alsintan menjadi simbol bahwa masa depan pertanian Jawa Timur sedang diarahkan menuju pertanian modern, efisien, dan berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *