Menenun Kemandirian dari Sebutir Telur: Asa Baru Disabilitas Intelektual di UPT RSBG Tuban

Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (UPT RSBG) Tuban terus memperkuat pengembangan produk Galery Gadisku dengan melibatkan pelaku usaha lokal. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah kegiatan penjajakan dan survei supplier telur bebek di Desa Kanor, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Tuban, SapaPublik

Di balik dinding Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (UPT RSBG) Tuban, sebuah asa sedang dirajut. Bukan sekadar rehabilitasi biasa, namun sebuah langkah kemandirian ekonomi bagi para penyandang disabilitas intelektual menuju melalui lini produk bernama Galery Gadisku .

Bacaan Lainnya

Kamis (5/2/2026), suasana di Desa Kanor, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban tampak berbeda. Tim Pekerja Sosial dari UPT RSBG Tuban terlihat sibuk bercengkerama dengan peternak bebek setempat. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan misi “jemput bola” untuk mencari bahan baku terbaik: telur bebek berkualitas.

Lebih dari Sekadar Bahan Baku

Langkah survei supplier ini merupakan bagian dari program Daya Dinakara (Dukungan dan Layanan untuk Disabilitas Intelektual agar mampu Berdikari dan Berkarya). Telur-telur bebek dari peternak lokal ini nantinya akan menjadi “nyawa” bagi produk-produk unggulan Galery Gadisku yang dikerjakan langsung oleh para Penerima Manfaat (PM).

Tim UPT RSBG meninjau langsung ke kandang-kandang, memastikan setiap butir telur yang dihasilkan memenuhi standar, mulai dari proses produksi hingga distribusi. Namun, ada misi yang lebih besar dari sekedar transaksi dagang: menciptakan ekosistem inklusif.

Membangun Ekonomi Inklusif

Kepala UPT RSBG Tuban, Nugroho Ariadi, menegaskan bahwa pengembangan produk Gadisku dirancang untuk memberikan dampak ganda.

“Kami ingin produk ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki dampak sosial. Melalui jejaring dengan pelaku usaha lokal, kami ingin mendukung kemandirian serta kreativitas para Penerima Manfaat,” ujar Nugroho dengan optimisme.

Dengan menggandeng peternak lokal, UPT RSBG Tuban sebenarnya sedang membangun jembatan. Di satu sisi, warga ekonomi desa ikut bergerak. Di sisi lain, para penyandang disabilitas intelektual mendapatkan ruang belajar dan berkarya yang nyata. Mereka tidak lagi dipandang sebagai objek kesejahteraan, melainkan sebagai produsen yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Harapan yang Menetas

Hasil survei di Desa Kanor ini akan menjadi pijakan penting bagi Galery Gadisku ke depan. Jika kerja sama ini terjalin, maka setiap produk yang dihasilkan Galery Gadisku nantinya akan membawakan cerita tentang kolaborasi, tentang telur bebek pilihan dari peternak lokal, dan tentang tangan-tangan tangguh para penyandang disabilitas yang menolak menyerah pada keterbatasan.

Kemandirian bukan lagi mimpi yang jauh. Dari sebutir telur bebek di Rengel, UPT RSBG Tuban sedang membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, penyandang disabilitas mampu berdiri di kaki sendiri, berdiri, dan berkarya untuk negeri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *