Inti Berita:
- Layanan Sahabat Pulang: Dinsos Jatim menangani 22 Orang Telantar (OT), termasuk 8 perempuan (6 dewasa, 2 anak-anak), melalui inovasi “Sahabat Pulang” yang mengintegrasikan sistem digital dan pendampingan psikososial.
- Kerentanan Perempuan: Terungkapnya kisah tragis mulai dari eksploitasi kerja paksa/seksual terhadap WR (37), penipuan calo yang menimpa SN (32) shingga kehilangan Rp 1.500.000, hingga penanganan bayi berusia 9 hari.
- Teknologi Integrasi: Penanganan tidak hanya manual, tetapi didukung fitur Face Recognition, aplikasi Simlontar, dan Jatim Social Care (JSC) untuk memastikan akurasi data dan mencegah ketelantaran berulang.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya:
Banyak Perempuan Masih di Lingkaran KeterlantaranĀ
Surabaya, Sapapublik – Tepat pada Selasa, 21 April 2026, ketika seluruh negeri pun merayakan semangat emansipasi R.A. Kartini, sebuah potret kontras terjadi di kantor Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur.
Di balik perayaan kesetaraan dan kemandirian, terdapat kenyataan pahit bahwa perempuan masih menjadi kelompok yang paling rentan terjebak dalam lingkaran ketelantaran.
Dinsos Jatim mencatat ada 22 Orang Telantar (OT) yang masuk dalam penanganan mereka hari itu. Dari jumlah tersebut, 8 di antaranya adalah perempuan yang terdiri dari 6 perempuan dewasa dan 2 anak di bawah umur.
Namun, tahun ini penanganan tidak lagi sekadar memberi tiket pulang. Melalui inovasi unggulan bernama Sahabat Pulang (Sistem Humanis Akses Bantuan Terpadu untuk Pemulangan dan Pemulihan Orang Telantar), negara hadir dengan cara yang lebih canggih dan manusiawi.
Jerat Eksploitasi dan Penipuan di Jalanan
Kepala Dinsos Jatim, Dra. Restu Novi Widiani MM, mengungkapkan keprihatinannya atas beragam motif yang membuat para “Kartini modern” ini terdampar.
Salah satu kisah paling memilukan datang dari WR (37), warga Jakarta Utara. Niat hati mencari nafkah sebagai penjual es keliling di Surabaya lewat perantara seseorang bernama Mama Lia, WR justru terjebak dalam gelapnya dunia prostitusi.
Selama 3 bulan, keringatnya tidak dibayar. Ia dijual kepada lelaki hidung belang, bahkan mengalami kekerasan digital berupa penyebaran video asusila kepada suami sirinya.
WR pulang membawa beban malu yang berat, namun Dinsos Jatim memastikan ia tidak pulang dengan tangan hampa; pendampingan psikososial menjadi prioritas sebelum ia dikembalikan ke daerah asal.
Lain lagi cerita SN (32), buruh sawit dari Kalimantan yang hendak pulang ke Purwakarta. Bersama suami dan dua anaknya, ia menjadi sasaran empuk calo nakal. Uang sebesar Rp 1.500.000 raib untuk tiket kapal fiktif.
Dengan sisa uang hanya Rp 350.000, ia mencoba bertahan hingga sampai di Pelabuhan Tanjung Perak. Naas, di sana ia kembali diperas calo angkutan yang awalnya meminta Rp 30.000 per kepala, namun di tengah jalan mengancam meminta Rp 200.000 per orang. SN menangis, seluruh sisa uang Rp 350.000 miliknya dikuras habis sebelum ia diturunkan paksa di jalanan.
Data Presisi dan Teknologi di Balik Layanan
Dinsos Jatim menyadari bahwa ketelantaran sering kali menjadi pola yang berulang. Lihat saja kasus HY (40) dan anaknya DR (9). Ini adalah kali kedua ia masuk dalam radar Dinsos Jatim.
Sebelumnya, ia sempat dibantu Dinsos Blitar dengan uang saku sebesar Rp 1.000.000. Bukannya pulang, HY justru menghabiskan uang tersebut untuk makan di restoran dengan memesan nasi goreng seafood di Kota Batu karena menganggap harga di sana serba mahal.
Untuk mengantisipasi perilaku “wisata ketelantaran” seperti ini, inovasi Sahabat Pulang tidak hanya mengandalkan insting petugas. Dinsos Jatim kini memperkuat bentengnya dengan:
- Face Recognition: Memastikan identitas asli OT secara akurat agar bantuan tepat sasaran.
- Aplikasi Simlontar: Sistem Informasi Manajemen Pemulangan Orang Telantar yang Terintegrasi dan Teredukasi untuk memantau rekam jejak setiap individu.
- Jatim Social Care (JSC): Layanan digital yang mempercepat respon bantuan di lapangan.
Kepulangan yang Bermartabat
Bagi Dinsos Jatim, misi utama mereka bukan sekadar “mengusir” orang dari Jawa Timur, melainkan memastikan kepulangan yang estafet dan aman. Termasuk penanganan darurat bagi seorang ibu muda dan bayinya yang baru berusia 9 hari yang nekat melakukan perjalanan dari Bali menuju Banten.
Tim medis dan petugas langsung bergerak memberikan perlengkapan bayi dan kebutuhan nutrisi secara instan. “Kami mengedepankan aspek humanis yang didukung sistem digital terintegrasi,” tegas Restu Novi Widiani.
Dengan Sahabat Pulang, setiap perempuan yang terlunta-lunta di Jawa Timur dipastikan mendapatkan perlindungan menyeluruh, mulai dari identifikasi hingga pemulihan fungsi sosialnya di tengah keluarga.
Di Hari Kartini ini, Dinsos Jatim membuktikan bahwa perlindungan terhadap perempuan bukan hanya soal retorika kesetaraan, melainkan tentang sistem yang kuat untuk menjemput mereka yang terjatuh di jalanan.






