Inti Berita
- Siaga Krisis Timur Tengah: Pemerintah menyiagakan Satgas 24 jam untuk memantau keselamatan PMI di wilayah konflik, termasuk verifikasi aduan warga Situbondo dan penegasan bahwa penempatan sektor domestik ke sana masih ilegal (moratorium).
- Layanan Mudik di Juanda: Penempatan petugas dipertebal di Terminal 1 dan 2 Bandara Juanda guna memberikan asistensi medis, pengurusan dokumen asuransi, hingga fasilitas ambulans bagi PMI yang pulang kampung selama masa Lebaran.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Surabaya, Sapapublik
Lebaran tahun ini membawa tantangan ganda bagi perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di satu sisi, ribuan pekerja sedang bersiap melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman. Di sisi lain, situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah menuntut kewaspadaan tinggi dari pemerintah.
Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana yang juga tengah bersiap mengemban tugas baru sebagai Atase di Korea Selatan menegaskan bahwa koordinasi antara kementerian dan perwakilan RI di luar negeri kini berlangsung nonstop 24 jam.
Fokus utamanya adalah memastikan keselamatan PMI yang berada di negara-negara konflik. Sebuah Satgas khusus telah dibentuk untuk mematangkan skenario evakuasi jika situasi memburuk.
“Sampai sekarang belum ada yang terdampak langsung, namun kami terus menyelidiki aduan yang masuk. Seperti dari Situbondo, dilaporkan ada lima PMI di Timur Tengah. Kami sedang teliti apakah mereka korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) atau penempatan ilegal,” ujar Gimbar.
Ia mengingatkan kembali bahwa sejak 2015, pemerintah masih memberlakukan moratorium penempatan sektor domestik ke Timur Tengah. Artinya, siapapun yang berangkat ke sana untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga saat ini dipastikan berangkat secara non-prosedural.
Asistensi di Gerbang Kepulangan
Tak hanya memantau mereka yang di luar negeri, BP3MI Jatim juga “pasang badan” menyambut kepulangan PMI di Bandara Juanda. Menghadapi lonjakan arus mudik yang diperkirakan mencapai 100 hingga 120 orang per hari, petugas di Terminal 1 dan Terminal 2 dipertebal jumlahnya, terutama pada periode krusial H-5 hingga H+5 Lebaran.
Fasilitas yang disediakan tidak main-main. Mulai dari lounge khusus pekerja migran untuk beristirahat, hingga bantuan medis darurat. “Kami menyiapkan kursi roda, ambulans, dan tim medis jika ada rujukan ke rumah sakit terdekat. Kami ingin memastikan mereka yang pulang dalam kondisi sakit tetap mendapatkan penanganan terbaik,” tambahnya.
Pesan untuk Pemudik: Jaga Kontrak dan Dokumen
Bagi para PMI yang sedang cuti Lebaran, Gimbar menitipkan pesan penting terkait keberlanjutan kerja mereka. Banyak pekerja, terutama dari negara tujuan utama seperti Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia, seringkali abai memperpanjang asuransi atau BPJS Ketenagakerjaan saat berada di Indonesia.
Pemerintah juga mengingatkan agar para pekerja kembali ke negara penempatan sesuai jadwal tiket dan kontrak yang telah disepakati. Kepulangan yang tidak sesuai prosedur atau memutus kontrak sepihak bisa berisiko hilangnya hak-hak seperti pesangon hingga pembatalan visa kerja oleh majikan lama.
Melalui sinergi dengan Dinas Tenaga Kerja Provinsi, BP3MI Jatim berkomitmen memberikan pendampingan penuh, mulai dari proses pemindaian di imigrasi hingga asistensi kepulangan ke daerah asal, agar para pahlawan devisa ini bisa merayakan Idulfitri dengan tenang dan kembali bekerja dengan aman.






