Bangun  Perisai dari Desa, BPBD Jatim Perluas Jaringan 38 Destana

Di setiap pembentukan Destana, BPBD Jatim juga memberikan bantuan 100 bibit pohon produktif, seperti, bibit pohon durian, alpukat, kelengkeng dan jambu air. Bantuan bibit ini diharapkan bisa menjadi mitigasi vegetatif bagi desa setempat yang manfaatnya juga bisa dirasakan secara ekonomis oleh warga sekitar.

Inti Berita:

  • Ekspansi Masif: BPBD Jatim resmi memulai pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang menyasar 38 kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur untuk tahun 2026.
  • Fokus Mataraman & Pesisir: Program diawali dari wilayah Mataraman (Tulungagung, Magetan, Trenggalek, Madiun) dan kini merambah ke Tuban serta Bojonegoro.
  • Mitigasi Ganda: Selain pembekalan kapasitas teknis seperti SOP evakuasi dan rencana kontingensi, BPBD memberikan 100 bibit pohon produktif per desa sebagai mitigasi vegetatif sekaligus penguat ekonomi.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya:

Langkah Awal di Bumi Mataraman

Sapapublik – Bencana seringkali datang tanpa mengetuk pintu, namun bagi masyarakat di pelosok Jawa Timur, kesiapsiagaan kini mulai dibangun dari tingkat paling dasar: desa. BPBD Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengambil langkah strategis dengan kembali membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di 38 kabupaten/kota. Gerakan masif ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya memperkuat “otot” masyarakat dalam menghadapi ancaman alam yang nyata.

Perjalanan tahun ini dimulai dari wilayah Mataraman. Pada Selasa, 5 Mei 2026, denyut kesiapsiagaan mulai terasa di Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, serta Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Di sana, para punggawa kebencanaan berkumpul, mulai dari Kabid Pencegahan & Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim, Deni Kiki Melia Tamara, hingga Kabid Kedaruratan & Logistik (KL), Satriyo Nurseno, bersama Fasilitator dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim.

“Kesiapsiagaan adalah prioritas utama di setiap lapisan masyarakat,” tegas Deni Kiki Melia Tamara saat menyampaikan pesan Kalaksa BPBD Jatim. Pesan ini bukan tanpa alasan, karena Destana dirancang agar warga desa tidak lagi menjadi objek saat bencana, melainkan subjek yang mampu mengenali ancaman, sigap saat darurat, dan cepat pulih pasca-kejadian.

Estafet Ketangguhan hingga Tuban dan Bojonegoro

Semangat membangun benteng perlindungan ini tidak berhenti di satu titik. Estafet pembentukan Destana berlanjut ke wilayah lain. Di Trenggalek, program ini menyentuh warga Desa Timahan, Kecamatan Kampak. Sementara di wilayah Madiun, kegiatan menyasar Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu (Kabupaten Madiun) serta Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo (Kota Madiun).

Tepat pada Selasa, 12 Mei 2026, giliran Desa Genaharjo di Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, yang menjadi pusat perhatian. Kehadiran tim BPBD Jatim disambut langsung oleh Kalaksa BPBD Tuban, Sudarmaji, beserta perangkat desa setempat. Ketangguhan ini pun dijadwalkan akan terus bergerak ke arah barat, menuju Desa Tembeling, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro pada Rabu, 13 Mei 2026.

Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Hijau

Ada hal unik dalam setiap pembentukan Destana kali ini. BPBD Jatim tidak hanya membawa materi teknis, tetapi juga membawa “harapan hijau” berupa 100 bibit pohon produktif. Bibit pohon durian, alpukat, kelengkeng, dan jambu air diserahkan kepada setiap desa. Secara naratif, ini adalah strategi mitigasi vegetatif: akar pohon mengikat tanah untuk mencegah longsor, sementara buahnya kelak menjadi penopang ekonomi warga.

Di dalam ruang-ruang kelas Destana, warga dididik dengan kurikulum kebencanaan yang sangat komprehensif. Materi yang diberikan mencakup:

  • Kajian Risiko Bencana dan Rencana Penanggulangan Bencana.
  • Rencana Aksi Komunitas dan penyusunan Rencana Kontingensi.
  • Penyusunan SOP Peringatan Dini serta SOP Evakuasi yang presisi.
  • Pelatihan teknis Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD).
  • Pembentukan Forum PRB Desa sebagai wadah keberlanjutan program.

Melalui langkah nyata di 38 kabupaten/kota ini, BPBD Jatim berharap setiap sudut desa di Jawa Timur tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi benar-benar tangguh dan mandiri dalam menjaga keselamatan jiwa serta lingkungannya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *