Inti Berita
- Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan Sekolah Rakyat harus menjadi lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan sebagai fondasi pembentukan karakter serta lahirnya generasi berprestasi.
- MPLS menjadi momentum menanamkan disiplin, integritas, kemandirian, dan semangat belajar, yang serentak dilaksanakan di 18 Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Jawa Timur untuk tahun ajaran 2026/2027.
- Pemprov Jatim memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat melalui berbagai program pendukung, mulai dari penguatan karakter, bimbingan konseling, edukasi kebencanaan, program parenting, bantuan perlengkapan sekolah, hingga penghijauan lingkungan sekolah sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan
Sapapublik – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan seluruh siswa Sekolah Rakyat harus belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan sebagai fondasi pembentukan karakter sekaligus melahirkan generasi berprestasi.
Penegasan itu disampaikan saat membuka Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Malang di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jumat (31/7/2026), didampingi Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jatim, Dra. Restu Novi Widiani, MM.
Menurut Khofifah, suasana belajar yang kondusif menjadi modal penting bagi peserta didik untuk berkembang secara akademik maupun karakter. Karena itu, ia mengingatkan seluruh warga sekolah untuk menjaga persaudaraan, saling menghormati, dan menolak segala bentuk perundungan.
“Tidak boleh ada perundungan, tidak boleh ada bullying. Jaga pertemanan dengan baik, jaga persaudaraan dengan baik. Sekolah yang baik Insyaallah nanti prestasi-prestasi yang baik pula yang akan anak-anak capai,” tegasnya.
Khofifah menjelaskan, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar kegiatan mengenalkan lingkungan belajar kepada siswa baru. Lebih dari itu, MPLS menjadi momentum menanamkan nilai disiplin, integritas, kemandirian, kepedulian, serta semangat belajar sejak hari pertama memasuki bangku sekolah.
Ia juga menyampaikan bahwa seluruh 18 Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Jawa Timur telah serentak melaksanakan MPLS sebagai awal dimulainya proses pendidikan tahun ajaran 2026/2027. Sekolah tersebut tersebar di Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Jember, Ngawi, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Tuban, Jombang, Trenggalek, Banyuwangi, Kabupaten Malang, Kota Surabaya, Gresik, Kabupaten Madiun, Sampang, Kota Blitar, Nganjuk, dan Pacitan.
Menurut Khofifah, Program Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini sekaligus menjadi salah satu strategi memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.
“Pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat sekaligus menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Pada tahun pertama pelaksanaannya, sebanyak 26 Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi di 22 kabupaten/kota dengan jumlah 2.281 peserta didik. Memasuki tahun kedua, pembangunan 18 Sekolah Rakyat Terintegrasi permanen terus berjalan, sementara 11 Sekolah Rakyat rintisan tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Khusus di SRT 1 Kabupaten Malang, jumlah peserta didik mencapai 323 siswa. Sebanyak 84 siswa merupakan peserta didik pindahan dari Sekolah Rakyat Rintisan SRT 47 Malang, sedangkan 239 siswa lainnya merupakan peserta didik baru.
Untuk memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menghadirkan berbagai program pendukung. Di antaranya penguatan pendidikan karakter melalui guru mengaji dan layanan bimbingan konseling bekerja sama dengan Fatayat NU, Program CERDIG, pelatihan perpustakaan.
Kemudian juga ada edukasi kesiapsiagaan bencana oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana), program parenting, penyaluran 5.370 paket alat tulis lengkap dengan sarung dan mukena bagi siswa baru SRT se-Jawa Timur, hingga penghijauan lingkungan sekolah melalui sinergi lintas perangkat daerah.
Khofifah menegaskan, seluruh program tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemprov Jatim dalam membangun ekosistem pendidikan yang utuh dan berkelanjutan agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas.
“Mari kita jaga komitmen bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan terbaik. Jangan biarkan kondisi ekonomi menjadi penghalang bagi lahirnya generasi unggul Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang siswa baru SRT 1 Kabupaten Malang, Andika, mengaku bersyukur dapat diterima di Sekolah Rakyat. Ia bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh.
“Saya senang bisa bersekolah di Sekolah Rakyat karena fasilitasnya sangat baik. Saya ingin belajar dengan giat agar bisa meraih cita-cita dan membanggakan orang tua,” katanya.
Melalui pelaksanaan MPLS di seluruh Sekolah Rakyat Terintegrasi di Jawa Timur, para peserta didik diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru, mengembangkan potensi diri secara optimal, serta tumbuh menjadi generasi unggul yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.*






