BPBD Jatim Perkuat Kesiapsiagaan di “Laboratorium Bencana” Dunia Lewat Pelatihan Strategis BNPB

Kepala BPBD Jatim GATOT SOEBROTO, S.E., M.PSDM menerima sertifikat sebagai Peserta SENIOR DISASTER MANAGEMENT TRAINING (SDMT) Angkatan III Tahun 2026 diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Inti Berita:

  • Peningkatan Kapasitas Pemimpin: Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, merampungkan Diklat Senior Disaster Management Training (SDMT) angkatan ke-3 guna memperkuat kepemimpinan krisis dan manajemen kebencanaan.
  • Status Darurat Indonesia: Pelatihan intensif ini didasari oleh posisi krusial Indonesia sebagai salah satu dari 35 negara dengan risiko bencana tertinggi dan peringkat keempat dunia dalam paparan bencana.
  • Inovasi Teknologi untuk Jatim: BPBD Jatim siap menguji coba satu unit teknologi ramah lingkungan berupa Mesin Olah Runtah (Motah) di Kabupaten Tuban untuk mengatasi masalah sampah pasca-bencana.

Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.

Bacaan Lainnya

Berita Selengkapnya:

Menempa Kemandirian di Tengah Kepungan Risiko

Sapapublik – Menghadapi bencana alam bukan sekadar tentang penanganan cepat saat badai menerjang, melainkan tentang ketangguhan visi seorang pemimpin dalam membaca situasi darurat. Kesadaran inilah yang membawa Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, untuk menyelami kembali strategi penanggulangan bencana di tingkat nasional.

Selama 12 hari penuh, terhitung sejak Senin, 4 Mei hingga Sabtu, 16 Mei 2026, Gatot melebur bersama 67 rekan sejawatnya dari berbagai wilayah tanah air. Mereka adalah bagian dari total 68 Kalaksa BPBD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia yang berkumpul di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di bawah naungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), para motor penggerak keselamatan daerah ini mengikuti diklat khusus bernama Senior Disaster Management Training (SDMT) Angkatan ke-3.

Program strategis ini resmi dibuka oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, dan ditutup oleh Sekretaris Utama BNPB, Dr. Rustian. Kehadiran para petinggi komando kebencanaan ini menegaskan betapa krusialnya posisi para pemimpin daerah dalam menjaga keselamatan warga di wilayah masing-masing.

Menjawab Tantangan Predikat “Laboratorium Bencana”

Dalam ruang-ruang diskusi pelatihan, sebuah fakta keras dipaparkan sebagai pengingat bersama. Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan bahwa secara geografis dan geologis, Indonesia berada dalam lingkaran risiko yang sangat masif. Negara ini tercatat sebagai salah satu dari 35 negara dengan tingkat potensi risiko bencana tertinggi di dunia. Bahkan, posisinya berada di peringkat keempat sebagai negara dengan paparan bencana tertinggi di dunia.

Kondisi ekstrem inilah yang membuat dunia internasional menyematkan julukan “laboratorium bencana” bagi Indonesia. Predikat tersebut jelas bukan ruang untuk berbangga diri. Sebaliknya, angka-angka statistik tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kebijakan, terutama di level daerah, untuk terus mematangkan kesiapsiagaan operasional.

Oleh karena itu, kurikulum SDMT dirancang dengan bobot yang padat dan komprehensif. Selama hampir dua pekan, Gatot Soebroto dan para peserta lainnya ditempa melalui berbagai materi kelas dan simulasi praktik lapangan. Mereka mendalami sistem penanggulangan bencana modern, kepemimpinan saat krisis (crisis leadership), manajemen informasi dan komunikasi kebencanaan, manajemen rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga aspek taktis seperti manajemen pengelolaan logistik dan peralatan serta gladi posko. Tidak kalah penting, forum ini menjadi ruang untuk memperkaya pola koordinasi lintas sektor demi memutus sekat-sekat birokrasi saat kondisi darurat tiba.

Adopsi Teknologi Motah untuk Jawa Timur

Bagi BPBD Jatim, pelatihan ini memberikan ruang evaluasi nyata untuk meninjau ulang tata kelola kebencanaan yang berjalan di Jawa Timur. Salah satu momentum penting terjadi saat para peserta melakukan peninjauan lapangan guna memetakan kisah sukses (success story) pengelolaan pasca-bencana. Perhatian Gatot tertuju pada Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Cijantung, Jakarta.

Di lokasi tersebut, Gatot bersama kelompok kerjanya mengamati langsung pengoperasian teknologi ramah lingkungan bernama Motah, singkatan dari Mesin Olah Runtah. Mesin khusus ini didesain tangguh untuk mengatasi penumpukan sampah sisa material yang kerap menjadi masalah baru pasca-bencana banjir, tanah longsor, maupun puting beliung.

Aspek efisiensi menjadi keunggulan utama dari teknologi ini. Mesin Motah sama sekali tidak membutuhkan pasokan daya listrik maupun bahan bakar minyak untuk beroperasi. Dengan mengandalkan sistem pembakaran bersuhu tinggi yang ramah lingkungan, mesin ini mampu memusnahkan residu tanpa melepaskan asap tebal ke udara bebas.

Melihat potensi besar tersebut, Gatot bergerak cepat untuk membawa inovasi ini ke Jawa Timur. Langkah taktis telah diambil dengan melaporkan keunggulan teknologi hemat energi tersebut secara langsung kepada Gubernur Jatim  Sebagai langkah awal realisasi, BPBD Jatim menjadwalkan pelaksanaan uji coba untuk 1 unit mesin Motah yang akan ditempatkan di wilayah Kabupaten Tuban.

Esensi Kemitraan Menghadapi Masa Depan

Pelatihan intensif di Bogor ini membawa pulang banyak modal pengetahuan dan pengalaman berharga untuk diaplikasikan di lapangan. Namun, bagi Gatot, intisari dari penanggulangan bencana melampaui urusan teknis dan manajerial semata. Ada pesan mendalam tentang mentalitas pembelajar dan pentingnya kolaborasi yang kokoh.

Tantangan dan dinamika alam di masa depan dipastikan tidak akan semakin mudah. Oleh sebab itu, kesiapan mental aparatur untuk terus belajar dan memperluas jejaring kemitraan horizontal menjadi kunci utama. Urusan keselamatan nyawa dan mitigasi dampak bencana bukanlah domain tunggal yang bisa dipikul sendiri oleh instansi pemerintah. Kerja kemanusiaan ini menuntut adanya ruang kolaborasi aktif (pentaheliks) yang melibatkan seluruh unsur, komunitas, dunia usaha, hingga elemen masyarakat terkecil di akar rumput.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *