Sapapublik – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur mengajak para orang tua untuk membentuk karakter anak sejak usia dini sebagai bekal utama dalam menggapai cita-cita. Peran orang tua dinilai tidak hanya sebagai pendamping, tetapi juga teladan, pendengar, sekaligus fasilitator bagi tumbuh kembang anak.
Pesan tersebut disampaikan dalam program Bahasa Bahas Apa Saja (Bahasa) Episode 157 bertema “Membentuk Karakter Anak Sejak Dini dalam Mendampingi Menggapai Cita-cita” Melalui Aplikasi Zoom. Kepala Disperpusip Jatim diwakili Kepala Bidang Perpustakaan dan Informasi, Ida Indriati, karena Kepala Disperpusip Jatim berhalangan hadir.
Dalam sambutan yang dibacakan Ida, Disperpusip Jatim menegaskan bahwa pembangunan literasi tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun pemahaman, karakter, dan nilai-nilai kehidupan sejak dini.
“Perlu keteladanan dan pendampingan terbaik dari orang tua. Mendampingi anak menggapai cita-cita membutuhkan komunikasi dua arah, menjadi pendengar sekaligus fasilitator agar anak mampu menentukan arah mimpinya sendiri,” ujarnya.
Ia mengatakan tema tersebut selaras dengan semangat peringatan Hari Anak Nasional yang tahun ini mengusung pesan “Sayangi Anak, Lindungi Anak, Bangun Masa Depan.” Menurutnya, anak merupakan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045 sehingga perlu mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Disperpusip Jatim juga telah menggelar berbagai rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Anak Nasional, di antaranya mendukung peringatan yang diselenggarakan berbagai pihak serta mengadakan bimbingan teknis bagi komunitas literasi yang menghadirkan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.
Pada kesempatan itu, Disperpusip Jatim turut menghadirkan narasumber dari PGRI Jawa Timur dan komunitas Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online Jawa Timur. Salah satu narasumber membagikan kisah inspiratif sebagai perempuan kepala keluarga yang berhasil mengantarkan anaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.
Menurut Ida, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mengantarkan anak meraih masa depan yang lebih baik apabila dibarengi semangat, ketekunan, dan pendampingan keluarga.
Ia menambahkan, penguatan literasi harus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Dalam sambutannya juga disampaikan konsep Trigatra Bangun Literasi yang diperkenalkan Gol A Gong, meliputi literasi keluarga, literasi masyarakat, dan literasi sekolah. Ketiga pilar tersebut diharapkan mampu memperkuat budaya baca, menulis, serta membangun karakter bangsa.
“Literasi keluarga menanamkan nilai dan karakter sejak dini, literasi masyarakat membudayakan membaca di ruang publik, sedangkan literasi sekolah menjadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran. Bahasa membangun peradaban, literasi menguatkan bangsa,” pungkasnya.
Pengurus PGRI Jatim Fube Christin Souisa menyampaikan pembentukan karakter sejak dini menjadi fondasi utama bagi anak untuk meraih cita-cita di masa depan. Orang tua dan sekolah dinilai memiliki peran penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak agar mampu menghadapi tantangan zaman.
Sinergi antara keluarga dan sekolah perlu dilakukan secara aktif agar pendidikan karakter berjalan secara optimal. Pengasuhan di era digital juga harus dilakukan secara bijak, terarah, dan penuh kesadaran sehingga anak dapat memanfaatkan teknologi secara positif.
Selain itu, penguatan kompetensi 4C, yakni berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, menjadi kunci keberhasilan anak di abad ke-21. Keempat kompetensi tersebut dinilai penting untuk membentuk generasi yang adaptif, mandiri, dan siap menghadapi perkembangan dunia yang semakin dinamis.
Sedangkan perwakilan Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online / Gaspol Jatim Kepy Hardyastuti menyampaikan kalau dirinya selalu memberikan kebebasan pada anak untuk bisa berbuat lebih positif dan bermanfaat serta memiliki tanggung jawab terhadap konsekuensi pilihannya. Dan mengutamakan kejujuran anak pada orang tua. “Pesan orang tua, dan pengalaman anak saya. Menjadi kejujuran menjadi hal utama,” tandanya.*






