IInti Berita:
- Inflasi tahunan (y-on-y) Jawa Timur April 2026 tercatat 2,85 persen dengan IHK 111,52, tertinggi di Sumenep 4,13 persen dan terendah di Banyuwangi 2,22 persen.
- Lonjakan harga dipicu kombinasi faktor: energi, bahan baku industri, dan komoditas global, dengan kontribusi terbesar dari kelompok makanan (3,90 persen) dan perawatan pribadi (11,32 persen).
- Secara bulanan inflasi relatif terkendali (0,02 persen) dan year-to-date 1,15 persen, menunjukkan tren stabilisasi pasca tekanan Ramadan dan Idulfitri.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya
Kombinasi Tekanan Global dan Domestik
Surabaya, Sapapublik – Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat sebuah gambaran yang menarik: harga-harga memang masih naik, tetapi lajunya mulai terkendali.
Pada April 2026, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Jawa Timur tercatat sebesar 2,85 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,52, naik dari 108,43 pada April 2025. Angka ini menempatkan Jawa Timur dalam kondisi inflasi moderat tidak terlalu tinggi, namun tetap perlu diwaspadai.
“Inflasi saat ini adalah hasil dari kombinasi tekanan global dan domestik, terutama dari sisi energi, bahan baku, serta pola musiman konsumsi masyarakat,” ujar seorang ahli statistisi BPS Jatim dalam keterangannya.
Tekanan Berlapis: Energi, Industri, hingga Komoditas Global
Cerita inflasi April 2026 tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari rangkaian peristiwa ekonomi yang saling terkait.
Lonjakan harga energi yang ditimbulkan terutama BBM nonsubsidi dan avtur, akhirnya berdampak langsung pada biaya transportasi. Hal ini tercermin dari inflasi sektor transportasi yang mencapai 2,64 persen, dengan andil 0,33 persen terhadap inflasi total. Bahkan, subkelompok jasa angkutan penumpang melonjak hingga 11,66 persen.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah dan gangguan pasokan global turut mendorong kenaikan biaya bahan baku industri. Dampaknya terasa pada harga produk olahan, kemasan, hingga barang elektronik.
Tak kalah penting, dinamika harga komoditas global juga memainkan peran. Kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) dan permintaan biodiesel, serta potensi risiko El Niño, memperkuat tekanan harga, meskipun harga emas global justru mengalami penurunan—yang terlihat dari deflasi bulanan pada komoditas emas perhiasan sebesar 0,12 persen.
Makanan dan Perawatan Pribadi Jadi Penyumbang Utama
Jika ditelusuri lebih dalam, kelompok pengeluaran menjadi kunci memahami inflasi ini.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,90 persen, dengan andil terbesar 1,08 persen. Komoditas seperti daging ayam ras (0,23 persen), beras (0,20 persen), dan minyak goreng (0,09 persen) menjadi pendorong utama.
Namun yang paling mencolok adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang melonjak hingga 11,32 persen, dengan andil 0,80 persen. Kenaikan ini didorong terutama oleh harga emas perhiasan yang menyumbang 0,69 persen terhadap inflasi tahunan.
Sementara itu, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Bawang putih menyumbang deflasi sebesar 0,11 persen, diikuti bawang merah (0,06 persen), kelapa (0,03 persen), dan pisang (0,02 persen).
Inflasi Mulai Terkendali Secara Bulanan
Menariknya, di balik tekanan tahunan, kondisi bulanan justru menunjukkan stabilitas.
Inflasi month-to-month (m-to-m) pada April 2026 hanya sebesar 0,02 persen, jauh lebih rendah dibanding April 2025 (0,93 persen) dan April 2024 (0,36 persen). Sementara inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat 1,15 persen, sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya (1,23 persen).
Fenomena ini tidak lepas dari normalisasi harga pangan setelah periode Ramadan dan Idulfitri, ketika permintaan biasanya melonjak tinggi.
Ketimpangan Antar Daerah
Dari sisi wilayah, inflasi tidak merata. Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,13 persen dengan IHK 116,00, sementara Banyuwangi menjadi yang terendah dengan 2,22 persen dan IHK 111,90.
Kota Surabaya sendiri mencatat inflasi 3,17 persen dengan IHK 111,75, menunjukkan tekanan harga di wilayah perkotaan tetap signifikan.
Membaca Arah ke Depan
Secara keseluruhan, inflasi Jawa Timur pada April 2026 mencerminkan fase transisi: dari tekanan tinggi menuju stabilisasi.
Kenaikan harga masih terjadi di banyak sektor—mulai dari makanan (3,90 persen), kesehatan (1,91 persen), pendidikan (1,89 persen), hingga restoran (1,87 persen)—namun laju bulanannya yang hanya 0,02 persen memberi sinyal bahwa tekanan mulai mereda.
Bagi BPS Jatim, ini menjadi indikator penting bahwa kebijakan pengendalian inflasi dan stabilisasi pasokan mulai menunjukkan hasil, meski tantangan global masih membayangi.
“Ke depan, yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara daya beli masyarakat dan stabilitas harga, terutama di sektor pangan dan energi,” tutup ahli statistisi tersebut.
Nafas Lega di Tengah Tekanan Global
Laporan BPS Jatim ini menunjukkan kabar baik yang dibalut kewaspadaan. Berikut beberapa poin pentingnya:
- Sinyal Positif: Angka inflasi bulanan 0,02% adalah indikator kuat bahwa lonjakan harga musiman (Lebaran) sudah berhasil diredam dengan baik.
- Waspada Faktor Eksternal: Meski domestik stabil, tekanan dari energi (BBM/Avtur) dan harga emas tetap menjadi “penumpang gelap” yang sulit dikontrol karena bergantung pada pasar global.
- PR Disparitas: Selisih inflasi antara Sumenep (4,13%) dan Banyuwangi (2,22%) cukup mencolok. Perlu pengawasan distribusi logistik yang lebih merata agar warga di pulau/daerah terpencil tidak menanggung beban harga lebih berat.
Secara keseluruhan, ekonomi Jatim tampak tangguh menghadapi dinamika global, namun daya beli masyarakat bawah tetap harus dijaga lewat stabilisasi harga pangan pokok.






