Surabaya, Sapapublik
Di tengah dinamika ekonomi global, kecepatan dan efisiensi di gerbang pelabuhan menjadi kunci daya saing sebuah negara. Menyadari peran strategis tersebut, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) melakukan transformasi besar-besaran lewat pembaruan alat bongkar muat dan digitalisasi layanan untuk memastikan arus barang keluar-masuk Jawa Timur berjalan tanpa hambatan.
Langkah ini bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan sebuah misi untuk memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha logistik: waktu sandar kapal yang lebih singkat dan biaya operasional yang lebih efisien.
Menghadirkan Teknologi Terbaru di Lini Depan
Dalam forum silaturahmi bersama Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur di Surabaya baru-baru ini, manajemen TPS memaparkan peta jalan penguatan layanan. Saat ini, TPS telah mendatangkan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) baru secara bertahap. Empat unit telah resmi beroperasi, sementara sepuluh sisanya akan segera menyusul untuk mempercepat penataan peti kemas di lapangan penumpukan.
Tak berhenti di situ, pada akhir April mendatang, TPS dijadwalkan menyambut 4 unit Container Crane (CC) raksasa yang baru. Modernisasi ini diproyeksikan akan meningkatkan kapasitas penanganan terminal secara signifikan pada pertengahan 2026.
“Hadirnya alat baru ini adalah angin segar. Hampir seluruh peralatan kini dalam kondisi prima, siap mendukung pelayanan optimal,” ujar Ketua DPW ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono. Ia menambahkan bahwa eksportir dan importir kini juga dimanjakan dengan adanya fasilitas fumigasi dan alat pemindai terintegrasi yang membuat pemeriksaan barang jauh lebih cepat.
Transparansi dalam Genggaman
Selain fisik alat, TPS juga menyentuh aspek transparansi melalui digitalisasi. Direktur Utama TPS, Wahyu Widodo, menegaskan bahwa pengguna jasa kini tidak perlu lagi menebak-nebak posisi barang mereka.
“Kami menghadirkan layanan yang transparan dan modern. Melalui fitur Web Access di situs resmi TPS, seluruh aktivitas operasional dapat dipantau secara real-time oleh pengguna jasa dari mana saja,” jelas Wahyu. Keterbukaan informasi ini bertujuan membangun kepercayaan dan memudahkan pelaku usaha dalam merencanakan distribusi logistik mereka.
Ritme Kerja Adaptif Jelang Lebaran
Menjelang periode puncak seperti Lebaran, manajemen TPS telah menyiapkan strategi mitigasi antrean. Direktur Operasi TPS, Noor Budiwan, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan pengaturan ritme kerja yang fleksibel, termasuk penyesuaian jadwal saat waktu sahur dan buka puasa agar operasional di lapangan tetap berjalan 24/7 tanpa jeda.
“Kami memantau ramalan (forecast) ekspor-impor secara berkala untuk memastikan area penumpukan (Container Yard) tetap fleksibel, baik untuk peti kemas yang masuk maupun keluar. Hasilnya, koordinasi yang intensif ini berhasil menurunkan angka keluhan pelanggan secara signifikan,” ungkap Noor.
Sinergi untuk Pelabuhan Tanjung Perak
Langkah strategis lainnya adalah pemerataan layanan di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. TPS mengalokasikan sebagian unit CC ke Terminal Berlian untuk menjaga keseimbangan distribusi beban kerja di seluruh kawasan pelabuhan. Sinergi ini memastikan bahwa tidak ada penumpukan beban di satu titik, sehingga kelancaran logistik di Jawa Timur tetap terjaga.
Melalui integrasi di bawah naungan Pelindo Grup, PT Terminal Petikemas Surabaya terus bertransformasi dari sekadar terminal peti kemas menjadi solusi logistik yang responsif, modern, dan berkontribusi langsung pada efisiensi ekonomi nasional






