Sapapublik – Senyum seorang lansia merekah ketika sekelompok mahasiswa keperawatan menyapanya dengan ramah. Obrolan sederhana, sapaan hangat, hingga kesediaan mendengarkan cerita mereka menjadi pengalaman yang tak tergantikan bagi para calon tenaga kesehatan tersebut.
Di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW) Blitar, para mahasiswa belajar bahwa merawat lansia bukan hanya soal keterampilan medis, tetapi juga tentang kesabaran, empati, dan penghormatan kepada mereka yang telah memasuki usia senja.
Pengalaman itu hadir melalui Inovasi OPLAS AJA (Optimalisasi Sinergi Pelayanan Lansia dengan Jejaring Kerja) yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui UPT PSTW Blitar Dinas Sosial Jatim.
Program yang digelar belum lama tersebut menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan pelayanan sosial agar calon tenaga kesehatan memahami kehidupan lansia secara lebih utuh.
Sebanyak tujuh mahasiswa Keperawatan Poltekkes Malang yang sedang menjalani praktik di UPT PSTW Blitar memperoleh pembekalan dari seorang pekerja sosial dan dua staf pelayanan.
Mereka mempelajari berbagai perubahan fisik, psikologis, hingga sosial yang dialami lansia, sekaligus teknik pendampingan yang aman, tepat, dan penuh kepedulian.
Namun, pelajaran sesungguhnya tidak hanya diperoleh di ruang pembelajaran. Mahasiswa juga diajak memahami berbagai tantangan yang dihadapi keluarga maupun caregiver dalam merawat lansia.
Dari sana mereka menyadari bahwa pendampingan terhadap orang lanjut usia membutuhkan kesabaran, kepekaan, dan dukungan dari banyak pihak.
Pekerja Sosial UPT PSTW Blitar, Dian Marta Sari, S.Sos., menilai kepedulian generasi muda terhadap lansia perlu terus ditumbuhkan sejak dini. Menurutnya, merawat lansia bukan semata menjadi tanggung jawab keluarga ataupun tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan mereka yang telah memasuki usia lanjut.
“UPT PSTW Blitar selalu mengajak generasi muda untuk ikut mendukung para caregiver. Merawat lansia bukan hanya tanggung jawab keluarga atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan mereka yang telah memasuki usia lanjut,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala UPT PSTW Blitar, Farida Hikmawati, AKS., M.AP., berharap pengalaman praktik melalui OPLAS AJA menjadi bekal yang akan terus melekat ketika para mahasiswa memasuki dunia kerja.
Menurutnya, tenaga kesehatan yang berkualitas tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan pelayanan yang humanis.
“Kami berharap melalui Inovasi OPLAS AJA, generasi muda semakin memiliki empati kepada keluarga yang merawat lansia serta mampu memberikan dukungan dan pelayanan yang humanis.
Bekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama praktik di UPT PSTW Blitar diharapkan menjadi modal penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada lansia di masa mendatang,” pungkasnya.*
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, kebutuhan akan tenaga kesehatan yang memiliki kepedulian sosial menjadi semakin penting. Melalui OPLAS AJA, UPT PSTW Blitar tidak hanya membangun kerja sama dengan institusi pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda. Sebab, di balik setiap tindakan medis, selalu ada empati yang menjadi fondasi utama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para lansia. *






