Inti Berita:
- Komando Terpadu: Dinsos Jatim menunggu hasil koordinasi strategis pada 7 April 2026 untuk menyelaraskan langkah penanganan dampak kemarau ekstrem bersama BPBD.
- Personel Siaga: Ribuan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) telah disiagakan di berbagai titik untuk merespons cepat potensi bencana hidrometeorologi.
- Jaring Pengaman Logistik: Skema Dapur Umum (DU) siap diaktifkan seketika jika muncul laporan krisis pangan atau kelaparan di wilayah terdampak kekeringan.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Menanti Komando di Tengah Bayang-Bayang Kekeringan
Surabaya, Sapapublik – Jawa Timur bersiap menghadapi tantangan alam yang cukup berat di tahun 2026. Dengan prediksi kemarau panjang yang mengintai, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial (Dinsos) mulai memasang kuda-kuda.
Meski matahari mungkin akan bersinar lebih terik dari biasanya, Dinsos Jatim memastikan bahwa mereka tidak akan membiarkan masyarakat berjuang sendirian.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, mengungkapkan bahwa langkah strategis instansinya saat ini sangat bergantung pada sinergi antar-lembaga. Disaat pada tanggal 7 April 2026, menjadi momen krusial di mana rapat koordinasi penanganan dampak hidrometeorologi digelar.
Pertemuan ini bertujuan agar setiap instansi memiliki irama yang sama dalam menghadapi potensi bencana.”Kami masih menunggu hasil rapat koordinasi terkait penanganan dampak kemarau tahun ini. Komando utama tetap berada di bawah BPBD Jawa Timur, dan kami siap bergerak mengikuti arahan teknis tersebut,” ujar Novi.
Ribuan Relawan dan Dapur Umum yang Tak Pernah Tidur
Di balik layar birokrasi, ada ribuan personel yang sudah mulai mengencangkan tali sepatu. Mereka adalah anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jawa Timur. Relawan-relawan ini telah disiagakan untuk terjun langsung ke titik-titik yang diprediksi akan mengalami kekeringan parah.
Bukan sekadar hadir, Dinsos Jatim juga membawa skema perlindungan mendasar melalui layanan Dapur Umum (DU). Fasilitas ini disiapkan sebagai benteng terakhir jika kemarau ekstrem mulai memicu krisis pangan atau laporan kelaparan di pemukiman warga.
Melindungi yang Rentan, Memastikan Kehadiran Negara
Fokus utama dari kesiapsiagaan ini adalah kelompok masyarakat rentan. Novi menegaskan bahwa kebutuhan tenaga dari Tagana beserta seluruh peralatan pendukung sudah dipastikan dalam kondisi prima.
“Jika di suatu tempat terjadi dampak serius seperti kelaparan, personel kami siap memberikan layanan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” pungkasnya.
Langkah ini diambil bukan hanya untuk meminimalisir dampak ekonomi, tetapi juga sebagai bukti nyata kehadiran pemerintah di tengah kesulitan warga.






