Abdul Majid Raih Lencana Jer Basuki Mawa Beya, Gadisku Apresiasi Perjuangannya untuk Difabel

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menyematkan penghargaan pada Ketua LIRA Disability Care Indonesia sekaligus Koordinator Koalisi Difabel Jawa Timur

Rangkuman Berita

  • Abdul Majid Raih Penghargaan Jatim – Ketua LIRA Disability Care Indonesia sekaligus Koordinator Koalisi Difabel Jawa Timur ini menerima Lencana Jer Basuki Mawa Beya atas kontribusinya memperjuangkan hak penyandang disabilitas.
  • Dorong Kesempatan Kerja bagi Difabel – Sebagai Manajer Penyiapan Tenaga Kerja Disabilitas di Gadisku, Abdul Majid turut mendorong kesiapan kerja dan perluasan akses pekerjaan bagi penyandang disabilitas.
  • Gadisku Perkuat Kolaborasi Inklusif – Direktur Gadisku, Edy Cahyono, mengapresiasi penghargaan tersebut dan berharap kolaborasi pemerintah, dunia usaha, serta organisasi difabel semakin kuat untuk mewujudkan kesetaraan

 

Bacaan Lainnya

Sapapublik – Perjuangan memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Abdul Majid, S.E., M.KP., Ketua LIRA Disability Care Indonesia sekaligus Koordinator Koalisi Difabel Jawa Timur, menerima penghargaan Lencana Jer Basuki Mawa Beya dalam rangka Hari Jadi ke-81 Jawa Timur.

Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (12/10/2026). Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kiprah Abdul Majid dalam memperjuangkan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas.

Bagi Abdul Majid, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia memandangnya sebagai pengakuan terhadap perjuangan bersama para penyandang disabilitas, organisasi, dan berbagai pihak yang selama ini mendorong terwujudnya kesetaraan.

“Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk seluruh teman-teman penyandang disabilitas, organisasi, dan mitra yang terus bekerja bersama memperjuangkan hak-hak kami,” ujarnya.

Perjuangan tersebut tidak berhenti pada advokasi kebijakan. Abdul Majid juga terlibat langsung dalam pengembangan akses ketenagakerjaan melalui perannya sebagai Manajer Penyiapan Tenaga Kerja Disabilitas di Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT Dinas Sosial Jawa Timur (Gadisku).

Melalui peran itu, ia turut mendorong kesiapan penyandang disabilitas untuk memasuki dunia kerja sekaligus membuka peluang agar mereka dapat bersaing berdasarkan kompetensi. Kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak menjadi salah satu aspek penting dalam mewujudkan kemandirian dan kesetaraan.

Menurut Abdul Majid, tantangan berikutnya adalah memastikan kebijakan inklusif benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik masih membutuhkan perhatian serta kolaborasi berbagai pihak.

Apresiasi atas penghargaan tersebut juga disampaikan Direktur Gadisku, Edy Cahyono. Ia menilai capaian Abdul Majid menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam memperjuangkan hak penyandang disabilitas, baik melalui advokasi kebijakan maupun pengembangan akses kerja.

“Kami mengucapkan selamat kepada Abdul Majid atas penghargaan Lencana Jer Basuki Mawa Beya. Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami di Gadisku untuk terus memperkuat pemberdayaan penyandang disabilitas,” kata Edy.

Ia berharap penghargaan tersebut semakin memperkuat kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, organisasi penyandang disabilitas, dan lembaga pemberdayaan. Sinergi itu diperlukan agar semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan dan memasuki dunia kerja.

Peringatan Hari Jadi ke-81 Jawa Timur pun menjadi momentum untuk melihat pembangunan dari sisi yang lebih luas, termasuk sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Penghargaan kepada Abdul Majid sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan inklusif tidak cukup diwujudkan melalui regulasi, tetapi juga perlu didukung program, anggaran, dan layanan yang nyata.

Pada akhirnya, keberhasilan memperjuangkan hak penyandang disabilitas tidak hanya diukur dari penghargaan yang diterima para pegiatnya. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut terlihat ketika penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, berkarya, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. *

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *