Rangkuman Berita:
- Jawa Timur mengalami deflasi 0,26 persen pada Juli 2026, tetapi inflasi tahunan meningkat menjadi 2,87 persen.
- Penurunan harga bawang merah, cabai, telur, dan tomat memicu deflasi bulanan, sementara transportasi, emas, bensin, dan beras masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan.
- Surabaya mencatat inflasi tertinggi di Jawa Timur sebesar 3,45 persen, sedangkan Banyuwangi terendah dengan 1,73 persen.
Sapapublik – Jawa Timur mencatatkan deflasi sebesar 0,26 persen pada Juli 2026 dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/m-to-m). Namun, di balik penurunan harga bulanan tersebut, tekanan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) justru menguat menjadi 2,87 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,21 persen.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati menyampaikan, kondisi ini menunjukkan harga sejumlah komoditas strategis masih bergerak naik dalam jangka panjang meski harga pangan mulai mereda pada Juli.
Data BPS juga menunjukkan deflasi Juli terutama dipicu turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, tomat, daging ayam ras, dan jagung manis. Penurunan harga komoditas tersebut mampu menahan laju inflasi bulanan hingga berada di zona negatif.
Meski demikian, secara tahunan tekanan harga masih cukup kuat. Inflasi y-on-y sebesar 2,87 persen terjadi karena kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 6,09 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,98 persen, kesehatan 2,42 persen, makanan, minuman, dan tembakau 2,35 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,32 persen.
Sejumlah komoditas masih menjadi pendorong utama inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, daging sapi, laptop atau notebook, rokok, nasi dengan lauk, telepon seluler, daging ayam ras hingga sepeda motor. “Sebaliknya, telur ayam ras, tomat, bawang merah, kelapa, dan cabai rawit menjadi komoditas yang menahan laju inflasi tahunan,” jelasnya.
BPS juga mencatat inflasi tahunan Jawa Timur tahun ini lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 maupun Juli 2024. Pada Juli 2024 inflasi tercatat 2,13 persen, meningkat menjadi 2,21 persen pada Juli 2025, kemudian naik lagi menjadi 2,87 persen pada Juli 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) hingga Juli 2026 mencapai 1,48 persen.
Dari sisi wilayah, seluruh 11 kabupaten/kota yang menjadi sampel Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi tahunan. Kota Surabaya menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen, disusul Sumenep 3,42 persen. Sebaliknya, Banyuwangi mencatat inflasi terendah sebesar 1,73 persen. Meski demikian, seluruh daerah tersebut mengalami deflasi secara bulanan pada Juli 2026.
“Fenomena deflasi bulanan yang dibarengi meningkatnya inflasi tahunan mengindikasikan harga pangan mulai mengalami koreksi setelah sebelumnya melonjak, tetapi tekanan harga dari sektor transportasi, energi, jasa, dan sejumlah komoditas nonpangan masih cukup tinggi sehingga inflasi tahunan tetap berada pada tren meningkat,” pungkasnya.*






