Surabaya, Sapapublik
Menghadapi tantangan fiskal pada tahun anggaran 2026, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Dinkop UMKM) Provinsi Jawa Timur mengambil langkah taktis. Meski terdapat penyesuaian anggaran, instansi ini berkomitmen agar program pembinaan UMKM tidak kehilangan tajinya.
Sekretaris Dinkop UMKM Jawa Timur, Arina Nur Fauziyah, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan tahun ini adalah efisiensi kreatif dan pemanfaatan aset secara maksimal.
Optimalisasi Fasilitas Pemerintah, Manfaatkan Fasilitas Negara
Salah satu perubahan paling signifikan adalah pergeseran lokasi kegiatan. Jika sebelumnya banyak agenda pembinaan dilakukan di hotel, kini Dinkop UMKM Jatim beralih menggunakan fasilitas milik negara.
“Kami mengoptimalkan gedung dinas provinsi, meminjam fasilitas dinas kabupaten/kota, hingga memaksimalkan peran Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT),” ujar Arina. Strategi ini diklaim efektif memangkas biaya operasional tanpa menurunkan kualitas materi pembinaan bagi pelaku usaha.
Penyesuaian Target Berbasis Prioritas
Arina menjelaskan adanya penyesuaian kuantitas peserta. Jika sebelumnya target capaian dipatok 100%, kini disesuaikan ke angka 80% untuk beberapa sektor. Namun, untuk program strategis nasional seperti Sertifikasi Halal, pemerintah tetap tancap gas.
Sebagai catatan, tahun lalu Dinkop UMKM Jatim sukses memfasilitasi 900 sertifikasi halal. Tahun ini, target dari pemerintah pusat tetap didukung penuh melalui sinergi lintas sektor guna memastikan produk lokal memiliki daya saing global. Pusat akan melangsungkan 100 sertifikasi halal, dan akan didukung penuh Dinkop Jatim dan UMKM
Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Investasi SDM
Menjawab kritik terkait kegiatan yang dianggap seremonial, Arina menegaskan bahwa setiap pelatihan dan pameran memiliki tujuan jangka panjang yaitu membangun jiwa kewirausahaan.
- Pelatihan Singkat: Ditujukan untuk menumbuhkan wirausaha pemula di tengah sempitnya lapangan kerja formal.
- Promosi & Pameran: Menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memperkenalkan produk unggulan, termasuk produk pesantren (OPOP), agar lebih dikenal masyarakat luas.
Dampak Makro: Tulang Punggung Ekonomi Jatim
Efisiensi ini bukan tanpa alasan. Sektor koperasi dan UMKM merupakan mesin utama ekonomi Jawa Timur. Berdasarkan data terbaru, kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur telah mencapai angka signifikan, yakni antara 50% hingga 60%.
Dengan realitas tersebut, Dinkop UMKM Jatim memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan tetap berorientasi pada hasil nyata, seperti:
- Peningkatan jumlah UMKM naik kelas.
- Kemudahan akses pembiayaan.
- Pertumbuhan wirausaha baru yang mandiri secara ekonomi.
Melalui sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Jawa Timur optimis sektor UMKM akan tetap menjadi pilar stabilitas ekonomi meski di tengah pengetatan anggaran






