Sidoarjo, Sapapublik
Di balik tenangnya langit Jawa Timur, tersimpan dinamika iklim yang sulit ditebak. Perubahan siklus cuaca kini bukan sekadar isu di atas kertas, melainkan tantangan nyata bagi keselamatan warga.
Menyadari hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD Jatim mengambil langkah proaktif yaitu dengan mematangkan kesiapan mental dan fisik para relawan sebagai garda terdepan perlindungan masyarakat.
Akhir bulan lalu, sunasana Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim tampak berbeda. Sekitar 100 relawan dari berbagai penjuru berkumpul dalam sebuah forum unik bertajuk “Arisan Ilmu Nol Rupiah ke-65”.
Lewat kolaborasi bersama Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim, kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan upaya “mengasah parang” sebelum masuk ke medan krisis.
Belajar Tanpa Henti demi Keselamatan Publik
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menekankan bahwa di tengah perubahan iklim yang ekstrem, kapasitas relawan tidak boleh jalan di tempat. Ia mengibaratkan kesiapsiagaan sebagai sebuah otot yang harus terus dilatih.
“Kapasitas relawan harus terus dimatangkan. Jangan pernah berhenti belajar. Menghadapi kondisi saat ini, kita tidak bisa sendiri. Harus bersama, saling berkolaborasi dan saling menguatkan,” ujar Gatot saat membuka kegiatan bertema “Bersiap Siagalah dalam Segala Hal” tersebut.
Pesan ini menjadi penting karena relawan adalah penyambung tangan pemerintah saat detik-detik awal bencana terjadi. Dengan budaya belajar yang konsisten, respon di lapangan diharapkan menjadi lebih cepat, tepat, dan meminimalisir risiko jatuhnya korban.
Lebih dari Sekadar Bertahan Hidup
Pelajaran utama dalam “Arisan Ilmu” kali ini adalah seni bertahan hidup atau survival management. Namun, materi yang dibawakan oleh penasihat Survival Skills Indonesia, Wawan Kimiawan, dan Daffa Nouval ini melampaui teknik dasar di alam liar.
Relawan diajarkan bagaimana mengelola risiko di tengah situasi darurat, mulai dari penentuan prioritas keselamatan hingga pengelolaan mental agar tetap tenang saat memimpin evakuasi. Beberapa poin krusial yang dipelajari meliputi:
- Manajemen Kritis: Teknik membaca situasi dan mengambil keputusan cepat saat krisis.
- Personal Survival Kit: Standar perlengkapan dasar yang wajib dibawa agar relawan tidak justru menjadi beban saat bertugas.
- Mitigasi Hidrometeorologi: Cara menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem yang kerap melanda Jawa Timur.
Wawan Kimiawan menegaskan bahwa survival adalah soal pola pikir. “Kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan hanya respons saat bencana terjadi,” tegasnya.
Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Melalui penguatan kapasitas ini, masyarakat Jawa Timur mendapatkan jaminan perlindungan yang lebih baik. Relawan yang kompeten berarti manajemen logistik di lapangan akan lebih tertata dan mitigasi risiko berbasis lingkungan bisa berjalan lebih efektif.
Langkah kolaboratif BPBD dan SRPB Jatim ini membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah dan relawan adalah kunci utama membangun Jawa Timur yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman






