Inti Berita:
- Ribuan warga memadati Gedung Negara Grahadi pada hari pertama Lebaran untuk mengikuti tradisi riyayan bersama Gubernur Jatim.
- Warga menikmati hidangan gratis dari pedagang lokal dan menerima paket sembako sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.
- Tradisi riyayan menjadi sarana mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat di tengah tantangan global.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Lihat postingan ini di Instagram
Berita Selengkapnya:
Surabaya, Sapapublik
Pagi itu, suasana di Surabaya terasa berbeda. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru daerah berbondong-bondong menuju Gedung Negara Grahadi. Mereka datang bukan sekadar untuk merayakan Idul Fitri, tetapi juga untuk merasakan tradisi riyayan yaitu sebuah momen silaturahmi langsung dengan pemimpin daerah.
Antrean panjang tampak sejak pagi hari. Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lansia, dengan sabar menunggu giliran untuk bersalaman dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan Wakil Gubernur Emil Dardak. Suasana penuh kehangatan terasa, tanpa sekat antara pemimpin dan rakyat.
Riyayan, Tradisi yang Menyatukan
Didampingi keluarga, Gubernur Khofifah menyambut setiap warga dengan senyum dan sapaan hangat. Baginya, riyayan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga ruang untuk membangun kedekatan emosional.
Ia menegaskan bahwa Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah, sekaligus kesempatan untuk saling memaafkan secara langsung. Dari interaksi sederhana ini, tumbuh rasa kebersamaan yang menjadi fondasi kuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Lebih dari itu, Khofifah juga menyoroti pentingnya menjaga solidaritas di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Menurutnya, langkah kecil seperti mempererat hubungan kekeluargaan dapat menjadi penyeimbang di tengah berbagai dampak krisis dunia.
Berbagi Rezeki, Menggerakkan Ekonomi Lokal
Tak hanya silaturahmi, riyayan di Grahadi juga menghadirkan kebahagiaan lewat hidangan gratis. Beragam makanan seperti soto, nasi goreng, hingga bakso disediakan oleh pedagang kaki lima di sekitar lokasi.
Keterlibatan para pedagang ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sengaja menggandeng mereka sebagai upaya memberdayakan ekonomi lokal, sehingga manfaat perayaan Lebaran dapat dirasakan lebih luas.
Setiap warga yang hadir pun pulang dengan membawa paket sembako berisi beras, biskuit, dan mi instan yang merupakansebuah bentuk perhatian sederhana namun bermakna.
Cerita dari Warga, Harapan dan Rasa Syukur
Antusiasme warga begitu tinggi. Siti Aminah, salah satu pengunjung, tetap datang meski tanpa alas kaki. Baginya, acara ini bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk bantuan nyata yang sangat berarti.
Hal serupa dirasakan Ahmad Fajar, seorang pengemudi ojek online yang datang bersama anak-anaknya. Untuk pertama kalinya mengikuti riyayan, ia mengaku bahagia bisa bertemu langsung dengan gubernur sekaligus membawa pulang kebutuhan rumah tangga.
Di balik keramaian itu, tersimpan cerita-cerita kecil tentang harapan, rasa syukur, dan kebersamaan yang merupakan nilai-nilai yang menjadi esensi sejati dari Lebaran.
Menjaga Semangat Kebersamaan
Melalui riyayan, Gubernur Khofifah berharap semangat gotong royong dan kepedulian terus hidup di tengah masyarakat Jawa Timur. Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sosial yang menjadi kekuatan bersama.
Di Grahadi hari itu, ribuan orang pulang bukan hanya dengan sembako, tetapi juga dengan hati yang hangat yaitu membawa pulang makna kebersamaan yang tak ternilai.






