Jakarta, Sapapublik
Di balik gemerlap lampu Ballroom Menara Peninsula Hotel, Jakarta, sebuah catatan sejarah baru saja terukir. Senin (2/3), suasana hangat pertemuan para pelaku usaha dari Jawa Timur dan DKI Jakarta, berubah menjadi optimisme besar saat angka transaksi di layar digital terus bergerak naik hingga menyentuh angka fantastis: Rp5,74 triliun.
Angka ini bukan sekadar deretan nol. Ini adalah rekor transaksi tertinggi sepanjang sejarah gelaran Misi Dagang Jawa Timur, baik di level nasional maupun internasional. Dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pertemuan ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antarwilayah mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang tangguh.
Sinergi “Dua Raksasa” Ekonomi
Jawa Timur dan DKI Jakarta adalah dua provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pertama dan kedua di Indonesia. Ketika keduanya bersinergi, dampaknya terasa hingga ke meja makan masyarakat. “Sampai saat ditutup pukul 17.00 WIB, komitmen transaksinya tembus Rp5,7 triliun. Di antara 50 perjalanan misi dagang kami, ini adalah yang tertinggi,” ujar Gubernur Khofifah dengan nada optimis.
Bagi Khofifah, misi dagang ini adalah jembatan. Jatim, sebagai lumbung pangan dan pusat industri pengolahan, membutuhkan pasar yang luas. Di sisi lain, Jakarta merupakan gerbang strategis sekaligus pusat konsumsi terbesar di Indonesia.
“Ini artinya sinergi antara Jawa Timur dan DKI Jakarta akan memberikan penguatan pada pertumbuhan ekonomi dan penyejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Dari Telur Ayam Hingga Produk Kreatif: Apa Manfaatnya bagi Kita?
Pencapaian Rp5,7 triliun ini membawa manfaat langsung bagi berbagai lapisan masyarakat, terutama para peternak, petani, dan pelaku UMKM. Ketahanan Pangan: Jatim menjual komoditas utama seperti daging unggas, telur ayam, susu, hingga ikan dori ke Jakarta. Hal ini menjamin ketersediaan pasokan pangan di ibu kota, terutama menjelang bulan Ramadan.
Peluang UMKM: Produk seperti batik tulis, kerajinan custom resin, makanan ringan, hingga fashion muslim ikut laku keras. Ini berarti lapangan kerja di desa-desa Jawa Timur tetap terjaga. Efisiensi Rantai Pasok: Melalui pertemuan langsung (Business to Business), rantai distribusi yang panjang dipangkas. Hasilnya? Harga lebih kompetitif bagi konsumen dan keuntungan lebih adil bagi produsen.
Mengapa Angka Ini Begitu Penting?
Secara makro, kinerja ekonomi Jawa Timur memang sedang “berlari”. Pada 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,85% (y-on-y), melampaui rata-rata nasional. Dengan kontribusi sebesar 14,40% terhadap PDB Nasional, stabilitas ekonomi Jatim adalah stabilitas Indonesia.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa memperkuat perdagangan antarwilayah adalah strategi utama menjaga ketahanan ekonomi. “Jakarta adalah pembuka pintu market yang lebih luas, tidak hanya di dalam tapi juga luar negeri,” jelasnya.
Kolaborasi yang Melampaui Transaksi
Senada dengan Khofifah, Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyebut kerja sama ini sebagai instrumen strategis. Kehadiran produk Jatim di Jakarta memastikan warga ibu kota mendapatkan akses barang berkualitas dengan kepastian pasokan.
Salah satu transaksi terbesar yang dicatat adalah komitmen Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jatim dengan mitra di Jakarta yang mencapai Rp2,64 triliun per tahun. Selain itu, penguatan organisasi seperti KADIN, HIPMI, dan IWAPI antar kedua provinsi juga diteken guna memastikan kolaborasi ini berkelanjutan.
“Kalau mencari daging ayam, telur ayam, dan ikan dori, belanjalah di Jawa Timur saja,” tutup Khofifah sambil tersenyum, mempromosikan keunggulan komoditas Jatim yang kini menjadi tulang punggung pemenuhan gizi warga Jakarta






