Pondok Ramadan Sobat Dili, Merayakan Ramadan dalam Isyarat di Dinsos Jatim

Kadinsos Jatim Restu Novi Widiani beserta perwakilan IKA Unair, YDSF dan RQST berfotobersama dengan seluruh peserta Pondok Ramadan Sobat Dili, di Masjid zal Ikhwan Dinsos Jatim.

Kolaborasi Dinsos Jatim, Ika Unair, YDSF dan RQST 

Surabaya, Sapapublik

Bacaan Lainnya

Di Masjid Al Ikhwan Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur, suasana Ramadan terasa begitu khidmat meski tanpa suara lantang tadarus yang menggema. Di sana, jemari puluhan perempuan bergerak lincah di udara, membentuk pola-pola bermakna yang menyuarakan ayat-ayat suci.

Inilah Pondok Ramadan Sobat Dili (Disabilitas Tuli), sebuah ruang inklusif yang digagas Dinsos Jatim untuk memastikan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Menembus Batas Komunikasi lewat Visual

Bagi “Teman Tuli”, mengikuti pesantren kilat konvensional seringkali menjadi tantangan besar karena kendala komunikasi. Memahami kebutuhan tersebut, Dinsos Jatim mengemas kegiatan ini dengan pendekatan bahasa isyarat visual yang komprehensif.

Sepanjang kegiatan, para peserta tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi berinteraksi aktif melalui:

  • Tadarus Al-Qur’an Isyarat: Metode khusus yang memungkinkan peserta memahami makna ayat suci secara visual.
  • Pendalaman Fiqih & Akhlak: Materi keagamaan yang disampaikan langsung oleh instruktur ahli bahasa isyarat.
  • Praktik Ibadah Mandiri: Penguatan tata cara salat dan wudu yang presisi agar ibadah tetap sempurna.

“Keterbatasan fisik bukan penghalang meraih keberkahan. Kegiatan rutin dua hari ini kami gelar agar manfaat spiritual Ramadan bisa dirasakan nyata oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Kepala Dinsos Jatim, Restu Novi Widiani.

Pengobatan medik bagi Sobat Dili

Sinergi Kemanusiaan: Dari Spiritual hingga Medis

Pondok Ramadan tahun ini tampil berbeda. Dinsos Jatim tidak berjalan sendiri, melainkan menggandeng Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), YDSF, dan Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST) dalam kolaborasi lintas sektor yang menyentuh aspek kesehatan sekaligus kesejahteraan.

Harapan Baru Melalui Pemeriksaan Medik.IKA Unair membawa tim ahli dari Persatuan Dokter THT Unair dan RSUD Dr. Soetomo. Tujuannya konkret: memeriksa sisa pendengaran peserta. “Kami berupaya membantu peserta yang mungkin masih memiliki sisa pendengaran agar nantinya bisa didukung dengan alat bantu dengar yang tepat,” jelas Dr. Abdullah Machin (Gus Machin), perwakilan IKA Unair.

Dukungan Kesejahteraan Sosial. Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) turut ambil bagian dengan memberikan dukungan paket kemanusiaan. Manajer YDSF, Muhammad Nasrulloh, menyebut sinergi ini sebagai “Gebyar Sosial” yang menyatukan aspek spiritualitas dengan kepedulian sosial yang nyata.

Membawa Semangat Inklusi ke Pelosok Jatim

Ketua RQST, Maskurun, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, dukungan fasilitas pengobatan hingga bingkisan adalah “berkah Ramadan” yang melimpah bagi komunitasnya. Namun, ia membawa misi yang lebih besar: Pemerataan Akses.

Saat ini, Sahabat Tuli tersebar di 22 cabang kabupaten/kota di Jawa Timur. Harapannya, model pondok ramadan inklusif ini bisa diduplikasi di tingkat daerah.

“Kami berharap dukungan dari Dinsos Jatim, YDSF, dan IKA Unair bisa merambah ke daerah-daerah, agar teman tuli yang lokasinya jauh juga bisa merasakan manfaat dan kebahagiaan yang sama,” pungkas Maskurun.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang menyentuh hati dan memastikan setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk beribadah dan berkembang, meski dalam kesunyian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *