Inti Berita:
- Tagana Jawa Timur memasuki usia 22 tahun dengan 1.640 personel aktif yang terlibat di seluruh tahapan penanggulangan bencana.
- Gubernur Khofifah menegaskan peran Tagana bukan hanya relawan, tetapi penguat sosial melalui layanan dapur umum, shelter, dan dukungan psikososial.
- Pemprov Jatim memberikan dukungan konkret berupa pelatihan, perlindungan BPJS, hingga bantuan operasional untuk meningkatkan profesionalitas relawan.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
Berita Selengkapnya:
Surabaya, Sapapublik
Dua puluh dua tahun bukanlah perjalanan singkat. Bagi Taruna Siaga Bencana (Tagana), angka ini adalah bukti konsistensi, ketangguhan, sekaligus pengabdian tanpa henti di tengah berbagai situasi krisis.
Momentum itu terasa hangat saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-22 Tagana digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir langsung, mengajak ratusan relawan Tagana dari seluruh penjuru Jawa Timur untuk berkumpul, bukan sekadar merayakan, tetapi juga merefleksikan perjalanan panjang kemanusiaan.
Didampingi Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, Khofifah tampak membaur tanpa sekat. Suasana penuh keakraban mencerminkan kedekatan emosional antara pemerintah dan para relawan yang selama ini bekerja di garis depan.
Tagana, Lebih dari Sekadar Relawan
Selama 22 tahun, Tagana telah berkembang menjadi pilar penting dalam sistem penanggulangan bencana. Di Jawa Timur saja, terdapat 1.640 personel aktif yang terlibat dalam berbagai fase penanganan yang mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pemulihan.
Namun, menurut Khofifah, peran Tagana jauh melampaui tugas teknis kebencanaan. “Mereka bukan hanya relawan. Tagana hadir sebagai keluarga bagi masyarakat terdampak,” ujarnya.
Di tengah situasi darurat, Tagana mengambil peran krusial. Mereka mengelola shelter pengungsian, memastikan ketersediaan makanan melalui dapur umum, melindungi kelompok rentan, hingga memenuhi kebutuhan dasar penyintas.
Tak kalah penting, mereka juga memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yaitu sebuah peran yang sering tak terlihat, namun sangat menentukan dalam memulihkan kondisi mental korban bencana.
Terjun di Medan Sulit, Tanpa Menunggu
Ketangguhan Tagana Jawa Timur telah teruji dalam berbagai bencana besar, bahkan hingga skala nasional.
Saat banjir dan longsor melanda Aceh, tim Tagana Jatim langsung bergerak pada hari kedua. Mereka menembus wilayah Aceh Tamiang dan Pidie Jaya yang saat itu belum bisa diakses kendaraan.
Di tengah keterbatasan, mereka tetap mendirikan dapur umum, mendistribusikan logistik, serta memberikan dukungan psikososial kepada warga terdampak.
Dedikasi serupa terlihat saat tragedi runtuhnya bangunan tiga lantai di Pondok Pesantren Al Khozini. Selama 17 hari penuh, Tagana bekerja tanpa henti, dengan memulainya dari membantu evakuasi, melayani kebutuhan relawan dan keluarga korban, hingga mendampingi proses pemulangan jenazah.
Di titik-titik krisis seperti inilah, kehadiran Tagana menjadi nyata dan dibalik itu bukan hanya sebagai petugas, tetapi sebagai penguat harapan.
Dari Mitigasi Hingga Pemulihan Ekonomi
Peran Tagana tidak berhenti saat bencana usai. Justru, mereka aktif membangun kesiapsiagaan sejak dini melalui berbagai program.
Program seperti Tagana Masuk Sekolah (TMS), Kampung Siaga Bencana (KSB), dan Tagana Teman Masyarakat (TTM) menjadi ujung tombak edukasi kebencanaan di tingkat komunitas.
Pendampingan Kampung Siaga Bencana terus diperkuat sebagai basis ketangguhan masyarakat. Di sisi lain, Tagana juga menjadi ruang pemberdayaan generasi muda agar lebih peduli terhadap isu kemanusiaan.
Salah satu inovasi menarik datang dari program “Dapur Kreasi”. Program ini tidak hanya fokus pada bantuan makanan, tetapi juga membantu korban bencana memulihkan ekonomi melalui pemberdayaan dan pelatihan.
Koordinator Tagana Jawa Timur, Twi Adi, menyebut perjalanan dua dekade ini sebagai proses panjang pembentukan profesionalisme relawan.
“Kami bergerak sesuai mandat, fokus pada perlindungan dan pengungsian. Tapi yang terpenting, kami memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan sosial yang utuh,” jelasnya.
Dukungan Nyata dari Pemprov Jatim
Komitmen para relawan ini tidak berjalan sendiri. Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat kapasitas Tagana melalui berbagai kebijakan strategis.
Mulai dari pelatihan lanjutan, sertifikasi kompetensi, hingga penyediaan alat pelindung diri dan peralatan evakuasi, semuanya diarahkan untuk menunjang profesionalisme.
Selain itu, setiap personel Tagana juga mendapatkan bantuan operasional tali asih sebesar Rp750 ribu per triwulan.
Perlindungan kerja pun menjadi perhatian serius. Melalui BPJS Ketenagakerjaan, para relawan mendapatkan jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM) dengan santunan hingga Rp126.835.000.
Langkah ini menjadi bukti bahwa negara hadir untuk melindungi mereka yang bekerja di garis depan risiko.
Prestasi yang Tak Terbantahkan
Dedikasi panjang ini berbuah prestasi. Tagana Jawa Timur tercatat lima kali menjadi Juara Umum Jambore Tagana Nasional seperti pada tahun 2010 (Cibubur), 2016 (Balikpapan), 2017 (Tondano), 2019 (Bromo), dan 2021 (Pangandaran).
Selain itu, sejumlah personelnya juga meraih predikat Tagana Teladan Nasional, di antaranya Priyo Prasojo, Twi Adi, dan Mokhamad Zainuri. Prestasi ini menjadi cerminan kualitas, sekaligus pengakuan atas kerja nyata di lapangan.
Menatap Masa Depan, Memperluas Kolaborasi
Memasuki usia ke-22, Tagana tidak berhenti pada capaian masa lalu. Tantangan kebencanaan yang semakin kompleks menuntut kesiapan yang lebih besar. Twi Adi menegaskan pentingnya memperkuat jejaring dan kolaborasi lintas komunitas.
“Kami ingin seluruh potensi masyarakat yang peduli bisa terhimpun dalam satu kekuatan besar,” ujarnya.
Pengkaderan generasi muda, penguatan kearifan lokal, serta dukungan fasilitas menjadi kunci untuk memastikan Tagana tetap relevan di masa depan.
Simbol Solidaritas yang Terus Menyala
Bagi Khofifah, Tagana adalah wajah nyata gotong royong Indonesia. Di setiap bencana, mereka hadir tanpa pamrih dan selalu menyiapkan diri di dapur umum, di lokasi evakuasi, hingga dalam proses pemulihan sosial.
“Di tengah bencana, Tagana sigap. Di saat krisis, Tagana hadir,” tegasnya.
Selama 22 tahun, Tagana telah membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah padam. Dan di Jawa Timur, nyala itu terus dijaga bersama ribuan relawn yang selalu siap menjadi yang pertama datang, dan terakhir meninggalkan lokasi bencana.






