Surabaya, Sapapublik
Di balik keriuhan persiapan mudik masyarakat menjelang Idulfitri 1447 H, denyut nadi logistik di gerbang ekspor-impor Jawa Timur justru semakin kencang. Menyadari peran krusialnya sebagai urat nadi ekonomi, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) bergerak cepat memastikan agar meja makan keluarga di seluruh penjuru negeri tetap terisi tanpa hambatan distribusi.
Bukan sekadar rutinitas, TPS tahun ini menerapkan strategi operasional berlapis untuk menjamin setiap petikemas berisi kebutuhan pokok dan barang penting lainnya mengalir lancar. Fokus utamanya sederhana namun berdampak besar: memastikan barang sampai tepat waktu di tengah lonjakan trafik musiman.
Orkestra Teknologi dan Peralatan Baru
Kecepatan menjadi kunci utama. TPS mengandalkan Berth Allocation Strategy yang terintegrasi dengan sistem Planning and Control (PnC) sebagai otak operasional. Strategi ini memungkinkan kapal-kapal pengangkut barang bersandar dan membongkar muatannya dengan durasi yang lebih singkat.
Pemandangan di lapangan penumpukan pun kini diperkuat dengan kehadiran armada Electrified Rubber Tyred Gantry (E-RTG) terbaru. Teknologi ramah lingkungan ini tidak hanya mempercepat proses pengambilan dan pengiriman petikemas (receiving & delivery), tetapi juga memastikan keandalan alat tetap prima meski bekerja di bawah tekanan volume tinggi.
Ruang Lapang untuk Logistik Nasional
Kekhawatiran akan penumpukan barang (kongesti) di pelabuhan ditepis dengan manajemen ruang yang cerdas. Melalui skema Flexible Block dan pemanfaatan area tambahan di blok W1–W4 hingga area railway, TPS memastikan gudang raksasanya tidak sesak.
“Kami melakukan penataan jadwal sandar dan penguatan peralatan untuk memastikan aktivitas bongkar muat berlangsung tertib, aman, dan tepat waktu,” ujar Senior Vice President Operasi Terminal TPS, Didik Kurniawan.
Saat ini, tingkat keterisian lapangan (Yard Occupancy Ratio/YOR) masih berada di angka yang sangat sehat, yakni rata-rata 50,7%. Artinya, masih tersedia ruang yang cukup luas untuk menampung lonjakan barang menjelang hari raya, sehingga risiko kemacetan logistik dapat ditekan sedini mungkin.
Kolaborasi Tanpa Jeda
Kelancaran arus barang bukan kerja tunggal. TPS memperkuat barisan dengan menggandeng Bea Cukai, Karantina, Kepolisian, hingga pelaku usaha. Sinergi ini memastikan birokrasi dan pemeriksaan keamanan tetap berjalan responsif tanpa mengabaikan standar HSSE (Health, Safety, Security, and Environment).
Bagi masyarakat, kesiapan TPS ini adalah jaminan bahwa stok barang di pasar tetap terjaga. Bagi pelaku usaha, kepastian jadwal sandar dan bongkar muat berarti efisiensi biaya logistik yang tetap terkendali.
Melalui langkah antisipatif ini, TPS membuktikan bahwa di balik perayaan Lebaran yang khidmat, ada sistem logistik yang tangguh dan terjaga, memastikan roda ekonomi nasional tetap berputar stabil hingga hari kemenangan tiba.






