Menjemput Masa Depan Hijau, Kolaborasi Strategis Jatim dan Swaniti Initiative demi Ekonomi Rendah Karbon

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut hangat jajaran Swaniti Initiative, lembaga global asal Houston, Amerika Serikat, untuk merajut sinergi dalam mempercepat transisi energi dan ekonomi hijau di wilayahnya

Surabaya, Sapapublik

Di bawah langit Surabaya yang cerah, Gedung Negara Grahadi kembali menjadi saksi lahirnya komitmen besar untuk masa depan lingkungan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut hangat jajaran Swaniti Initiative, lembaga global asal Houston, Amerika Serikat, untuk merajut sinergi dalam mempercepat transisi energi dan ekonomi hijau di wilayahnya, pertengahan pekan ini (4/3).

Bacaan Lainnya

Pertemuan ini bukan sekadar audiensi formal. Di balik meja diskusi, tersusun sebuah peta jalan ambisius: bagaimana Jawa Timur tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemimpin dalam gerakan Net Zero Emission (NZE).

Akselerasi Target dengan tagline Lebih Cepat, Lebih Baik

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki nyali untuk melampaui target nasional. Jika Indonesia membidik nol emisi pada 2060, Khofifah optimistis Jatim mampu mencapainya satu dekade lebih awal, yakni pada 2050.

“Jika semua elemen bergerak bersama dan melaksanakan langkah nyata, percepatan target Net Zero Emission hingga 2050 dapat diwujudkan,” ujar Khofifah penuh keyakinan.

Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Jatim telah menanam modal masa depan melalui berbagai proyek nyata, mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Wongsorejo di Banyuwangi berkapasitas 50 MW, masifnya penggunaan PLTS atap, hingga kebijakan ramah kantong berupa insentif pajak 0% bagi pemilik kendaraan listrik.

Manfaat Nyata untuk Rakyat

Namun, bagi Khofifah, ekonomi hijau bukan sekadar angka di atas kertas atau kecanggihan teknologi. Ia meminta Swaniti Initiative melalui program Meridian Collective untuk membedah rencana kerja yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak.

“Saya ingin program ini di-break down lebih konkret. Apa dampaknya bagi ketahanan iklim kita? Bagaimana ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi warga Jatim?” cetusnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menekankan bahwa kolaborasi global adalah kunci. Menurutnya, keterlibatan sektor swasta dalam sebuah konsorsium akan memastikan proyek energi terbarukan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Ini bukan sekadar soal profil provinsi di mata dunia, tapi tentang bagaimana teknologi dan pembiayaan global bisa masuk ke Jatim untuk memperkuat ekonomi rakyat,” jelas Emil.

Daya Tarik Investasi Hijau

CEO Swaniti Initiative, Rwitwika Bhattacharya, mengaku kagum dengan kepemimpinan di Jawa Timur. Menurutnya, komitmen politik yang kuat dari kepala daerah adalah magnet utama bagi investor hijau internasional.

“Transisi energi tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang sangat luas,” kata Rwitwika.

Ia membeberkan rencana pembentukan konsorsium sektor swasta yang akan menjadi motor penggerak proyek energi terbarukan di Jatim, memastikan efisiensi teknologi, dan memperluas akses pembiayaan bagi pembangunan rendah karbon.

Melalui sinergi ini, Jawa Timur kini sedang bersiap bertransformasi. Bukan hanya menjadi provinsi industri yang kuat, tapi menjadi rumah bagi ekonomi hijau yang berkelanjutan, di mana udara bersih dan kesejahteraan masyarakat berjalan beriringan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *