Menjaga “Napas” Peringatan Dini: Langkah BPBD Jatim Pastikan Warga Aman di Tengah Cuaca Ekstrem

BPBD Jatim dengan memperkuat langkah kesiapsiagaan melalui pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai daerah di Jatim. Pengecekan EWS dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, berlanjut ke Kabupaten Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga ke Pacitan.

Surabaya, Sapapublik

Di tengah kepungan cuaca ekstrem yang membayangi wilayah Jawa Timur, sebuah suara nyaring dari menara besi seringkali menjadi pembeda antara keselamatan dan bencana. Alat itu adalah Early Warning System (EWS). Sadar akan vitalnya peran teknologi ini, BPBD Provinsi Jawa Timur melakukan gerak cepat dengan menyisir pelosok daerah untuk memastikan seluruh “indra pengingat” ini berfungsi prima.

Bacaan Lainnya

Bukan sekadar rutinitas teknis, pengecekan maraton yang dimulai sejak awal Maret 2026 ini merupakan upaya memastikan masyarakat memiliki waktu luang yang cukup untuk menyelamatkan diri saat alam sedang tidak bersahabat.

Memastikan Deteksi Nyata di Lapangan

Meski perkembangan kondisi alat dapat dipantau melalui dashboard digital di kantor pusat, Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa pengecekan fisik tetap menjadi prioritas utama.

“Kami ingin mengetahui kondisi riil di lokasi. Pengecekan langsung ini memastikan EWS benar-benar siap menjadi alat deteksi dini bagi masyarakat jika sewaktu-waktu bencana mengancam,” ujar Gatot.

Sebanyak 71 unit EWS yang tersebar di titik-titik rawan menjadi sasaran audit teknis. Rinciannya mencakup 27 titik EWS banjir, 27 titik EWS longsor, dan 17 sirine tsunami. Perjalanan tim dimulai dari ujung timur, yakni Pantai Rajegwesi Banyuwangi, sebelum berlanjut menyisir Jember, Lumajang, hingga ke arah barat menuju Pacitan.

Penyelamat di Balik Deru Air dan Tanah

Manfaat nyata keberadaan alat ini dirasakan langsung oleh warga Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember. Kepala Desa setempat, H. Abdul Ghafur, menceritakan bagaimana alarm banjir menjadi “malaikat pelindung” bagi sekitar 800 KK warganya.

“Warga kami masih sering beraktivitas di sungai. Saat debit air mulai meningkat secara tidak wajar, alarm berbunyi. Peringatan dini itulah yang membuat mereka segera menjauh dari aliran air sebelum bahaya datang,” ungkap Ghafur.

Kisah serupa datang dari kaki bukit Kelopo Kembar, Banyuwangi. Candra Kristianto, perangkat Desa Kandangan, bersaksi bahwa suara kencang alarm EWS longsor mampu menjangkau radius lebih dari satu kilometer. Kehadiran alat ini memberikan ketenangan bagi warga yang bermukim di area rawan longsor, karena mereka tahu ada sistem yang senantiasa berjaga 24 jam.

Lebih dari Sekadar Alarm Bencana

Menariknya, fungsi EWS di lapangan kerap melampaui tugas utamanya. Di Desa Mojomulyo, Jember, speaker EWS tsunami dimanfaatkan secara kreatif untuk menjaga keselamatan wisatawan di Pantai Cemara.

“Speaker itu kami gunakan untuk woro-woro (pengumuman) kepada pengunjung agar tidak lengah memantau anak-anak mereka saat bermain di pantai,” kata Heri, warga setempat.

Kolaborasi Demi Keselamatan

Kabid PK BPBD Lumajang, Sultan Syafaat, yang turut mendampingi pengecekan, menekankan bahwa teknologi secanggih apa pun membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan. Ia mengapresiasi langkah BPBD Jatim yang turun langsung memastikan keandalan alat di wilayah rawan seperti Lumajang.

Melalui sinergi antara kesiapan personel, keandalan teknologi EWS, dan kewaspadaan masyarakat, BPBD Jatim optimistis risiko bencana dapat ditekan seminimal mungkin. Cuaca ekstrem mungkin tidak bisa dihindari, namun dengan sistem peringatan dini yang sehat, keselamatan warga tetap menjadi prioritas yang terjaga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *