KepInti Berita:
- Perencanaan Sejak Awal: Pemulihan bencana kini tidak lagi menunggu kerusakan terjadi; BPBD Jatim sudah menyiapkan data dan skema pemulihan sejak fase pra-bencana (Pre-Disaster Recovery Planning).
- Fokus Ekonomi & Teknologi: Selain membangun infrastruktur, prioritas utama adalah memulihkan mata pencaharian warga dan memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) untuk edukasi serta hitung kerusakan.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Surabaya, Sapapublik
Selama ini, kita sering menganggap bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah tugas yang baru dimulai saat debu reruntuhan bencana sudah mengendap. Namun, BPBD Jawa Timur kini membalik logika tersebut. Pemulihan sejati justru harus dimulai jauh sebelum bencana itu sendiri datang menyapa.
Dhany Aribowo, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jatim, mengungkapkan bahwa kunci utama agar proses pemulihan tidak berjalan lamban adalah persiapan data yang matang di fase pra-bencana.
Strategi ini disebut sebagai Pre-Disaster Recovery Planning. Tujuannya satu yaitu agar saat keadaan darurat usai, pemerintah tidak perlu memulai segala sesuatunya dari nol. “RR itu bukan sekadar membangun ulang yang rusak. Jika dokumen tidak siap, maka anggaran dari pusat tidak bisa turun. Itulah mengapa perencanaan ini sangat krusial,” tegas Dhany.
Membangun Ekonomi, Bukan Sekadar Hunian
Satu tantangan terbesar yang sering terlupakan dalam fase pascabencana adalah nasib dapur warga. BPBD Jatim mulai menggeser fokus yaitu dengan membangun kembali rumah (hunian tetap) memang penting, namun memulihkan mata pencaharian warga adalah napas utama dari keberhasilan pemulihan.
Belajar dari penanganan erupsi Semeru di Lumajang, skema bantuan ternak berbasis kelompok menjadi salah satu model yang sukses. Dhany menekankan bahwa pemulihan belum dianggap selesai jika warga belum bisa kembali mandiri secara ekonomi seperti sedia kala.
Sentuhan Inovasi Virtual Reality
Tak hanya soal fisik dan ekonomi, BPBD Jatim juga mulai merambah dunia digital. Bekerja sama dengan ITS, mereka tengah menguji coba penggunaan teknologi Virtual Reality (VR). Teknologi ini dirancang untuk mengedukasi masyarakat serta melatih petugas dalam menghitung tingkat kerusakan bangunan secara lebih akurat dan cepat.
Meski fase rehabilitasi dan rekonstruksi seringkali tidak terlihat “seheroik” aksi penyelamatan di masa tanggap darurat, fase inilah yang menjadi penentu masa depan para penyintas. Ini adalah kerja panjang untuk memastikan masyarakat tidak hanya sekadar bertahan, tapi mampu bangkit kembali dengan kaki yang lebih kuat






