Inti Berita:
- Mitigasi Krisis Global: Gubernur Khofifah mengumpulkan Bupati/Wali Kota se-Jatim untuk menyiapkan strategi menghadapi dampak ketegangan geopolitik (AS-Israel vs Iran) terhadap sektor energi dan pangan.
- Benteng Ekonomi Jatim: Jawa Timur mengandalkan statusnya sebagai lumbung pangan nasional dan simpul logistik (melayani 24 rute tol laut) untuk menjaga resiliensi ekonomi.
- Strategi Taktis: Pemprov Jatim menyiapkan langkah konkret mulai dari pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), stabilisasi harga pangan lewat Jatim Agro-Hub, hingga perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Menjaga Nadi Ekonomi di Tengah Ketegangan Global
Surabaya, Sapapublik – Di balik suasana hangat Idul Fitri 1447 Hijriah, sebuah pertemuan strategis berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, tidak ingin lengah dengan dinamika dunia.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar berita mancanegara, melainkan ancaman nyata bagi rantai pasok energi dan pangan di daerah.
Dalam diskusi publik yang dipandu Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur harus bertransformasi menjadi wilayah yang tidak hanya bertahan, tapi juga adaptif.
Sebagai motor penggerak yang menyumbang lebih dari 25 persen ekonomi Pulau Jawa, langkah kaki Jawa Timur akan sangat menentukan stabilitas nasional.
Lumbung Pangan dan Kekuatan Logistik sebagai Kunci
Mengapa Jawa Timur begitu optimistis? Jawabannya ada pada kemandirian sumber daya. Saat ini, Jatim memegang predikat sebagai produsen padi dan beras tertinggi di Indonesia.
“Menjaga ketahanan pangan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis,” tegas Khofifah. Melalui program Jatim Agro-Hub, distribusi pangan dari hulu ke hilir diperketat agar harga di pasar tetap terjangkau oleh masyarakat.
Tak hanya soal perut, Jatim juga merupakan “jantung” distribusi untuk Indonesia Timur. Pelabuhan Tanjung Perak kini melayani mayoritas rute tol laut, memastikan pasokan logistik ke 19 provinsi tetap lancar meski badai ekonomi global menghantam.
Transisi Energi dan Perlindungan Sosial
Menyadari bahwa harga BBM dunia sangat fluktuatif, Pemprov Jatim mulai tancap gas beralih ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Kapasitas EBT Jatim kini telah menembus 709,13 MW, memanfaatkan mulai dari sinar matahari hingga pengolahan sampah.
Ini adalah investasi jangka panjang agar Jatim tidak lagi ketergantungan sepenuhnya pada energi fosil.
Namun, Khofifah juga menyadari ada lapisan masyarakat yang paling terdampak oleh inflasi. Oleh karena itu, skema perlindungan sosial seperti PKH Plus dan bantuan permodalan bagi UMKM terus diperkuat.
Gubernur juga mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying, karena stok kebutuhan pokok dipastikan aman.
Sinergi Menuju Resiliensi
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, yang turut hadir secara daring, memberikan catatan positif. Menurutnya, struktur ekonomi Jatim yang ditopang oleh konsumsi domestik menjadikannya lebih tangguh terhadap guncangan luar negeri.
Meski tantangan besar di depan mata, pesan utama dari Grahadi sangat jelas: sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota adalah senjata utama. Dengan gotong royong, Jawa Timur bersiap mengubah tantangan global menjadi peluang kemandirian ekonomi yang lebih kuat.






