Inti Berita:
- Pelayanan Non-Stop: Dinsos Jatim menyiagakan petugas piket selama 6 hari kerja (18–25 Maret 2026) di Ruang Pelayanan Terpadu untuk menangani penyandang masalah sosial selama masa libur Lebaran.
- Penanganan 13 Jiwa: Sebanyak 10 orang dewasa dan 3 anak telantar yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi Selatan telah berhasil ditangani dan difasilitasi kepulangannya.
- Solusi Komprehensif: Pelayanan tidak hanya berupa bantuan dasar, tetapi mencakup asesmen mendalam, pemenuhan kebutuhan pribadi, hingga penyediaan tiket transportasi akibat faktor penipuan kerja dan habis bekal.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya.
Berita Selengkapnya
Komitmen Pelayanan di Tengah Cuti Bersama
Surabaya, Sapapublik – Momentum Lebaran biasanya identik dengan libur panjang dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur, kemanusiaan tidak mengenal kata libur.
Di bawah instruksi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinsos tetap menyiagakan layanan bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang tergolong sebagai orang telantar di tengah hiruk-pikuk arus mudik dan balik.
Selama enam hari kerja, terhitung mulai tanggal 18 hingga 25 Maret 2026, Ruang Pelayanan Terpadu yang berlokasi di Gedung B Dinsos Jatim tetap membuka pintunya. Langkah ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam merespons dinamika sosial yang kerap meningkat selama masa hari raya.
Sistem Piket dan Keamanan yang Terjaga
Kepala Dinsos Jatim, Dra. Restu Novi Widiani, MM, menjelaskan bahwa pelayanan tetap berjalan optimal meski dalam suasana libur panjang. Untuk memastikan operasional tetap lancar, seluruh staf dari Sub Substansi Penanganan Korban Bencana Sosial (PKBS) Bidang Penanganan Bencana diterjunkan secara bergiliran.
“Ini adalah wujud komitmen kami dalam memberikan perlindungan sosial secara berkelanjutan. Setiap jam piket diisi oleh dua orang petugas yang didampingi tim keamanan guna memastikan seluruh proses pelayanan berjalan tertib, aman, dan lancar bagi para penerima manfaat,” ujar Novi.
Menangani 13 Nyawa dengan Berbagai Kisah Pilu
Berdasarkan data yang dihimpun selama periode siaga tersebut, Dinsos Jatim berhasil menangani 13 orang yang kehilangan arah di perjalanan. Mereka terdiri dari 10 orang dewasa dan 3 anak telantar.
Latar belakang mereka pun beragam dan menyentuh sisi kemanusiaan; mulai dari warga yang kehabisan bekal di tengah perjalanan, hingga mereka yang menjadi korban penipuan terkait tawaran pekerjaan yang ternyata fiktif.
Para penerima manfaat ini diketahui berasal dari berbagai daerah di luar Jawa Timur, dengan tujuan pemulangan yang mencakup wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga lintas pulau menuju Sulawesi Selatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Dinsos Jatim untuk memberikan perlindungan yang tepat sasaran.
Proses Integrasi: Dari Asesmen hingga Tiket Pulang
Ketua Tim Sub Substansi Penanganan Korban Bencana Sosial Dinsos Jatim, Liawati Suntiana, memaparkan bahwa penanganan yang diberikan bersifat menyeluruh dan terintegrasi.
Begitu warga telantar tiba di pos pelayanan, petugas tidak langsung melepas mereka, melainkan melakukan asesmen mendalam untuk memahami kebutuhan dan latar belakang masalahnya.
“Kami melakukan asesmen secara berkelanjutan untuk memastikan kondisi mereka. Selain menyiapkan permakanan dan pemenuhan kebutuhan pribadi yang mendesak, kami juga memfasilitasi pembelian tiket transportasi agar mereka dapat kembali ke daerah asalnya dengan rasa aman dan nyaman,” jelas Liawati.
Harapan dan Langkah ke Depan
Keberhasilan memulangkan belasan warga telantar ini menjadi potret kesigapan birokrasi dalam menangani situasi darurat di masa liburan. Ke depan, Dinsos Jatim berjanji akan terus memperkuat komitmen ini dengan meningkatkan kualitas layanan serta mempererat koordinasi lintas sektor.La
Langkah strategis ini diharapkan mampu memberikan jaring pengaman sosial yang lebih kuat bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama saat menghadapi situasi sulit di tengah momentum besar seperti Lebaran. Bagi Dinsos Jatim, memastikan setiap warga bisa kembali ke pelukan keluarga adalah prioritas utama yang melampaui sekadar tugas administratif






