Inti Berita:
- Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kediaman Gubernur Jawa Timur di Jemursari untuk merayakan riyayan hari kedua Idul Fitri.
- Kuliner gratis dari pelaku UMKM dan pedagang kaki lima menjadi daya tarik utama sekaligus upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.
- Tradisi riyayan dinilai memperkuat silaturahmi, harmoni sosial, dan kebersamaan lintas kalangan di Jawa Timur.
Bagaimana menurutmu? Tulis kolom komentar baru di bawahnya
@sapapublikdotcom Ayo bantu like subcribe follow #khofifah #lebaran #jatim #surabaya #gubernurjatim ♬ Promotional – FlyFlyMusic
Berita Selengkapnya
Surabaya, Sapapublik
Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa kental di kawasan Jemursari, Surabaya, Minggu (22/3). Sejak pagi, ribuan warga berbondong-bondong mendatangi kediaman Khofifah Indar Parawansa untuk mengikuti tradisi riyayan hari kedua Idul Fitri.
Tak sekadar acara seremonial, riyayan ini menjelma menjadi ruang pertemuan tanpa sekat antara pemimpin dan masyarakat. Warga dari berbagai latar belakang yang dimulai dari keluarga, anak-anak, hingga pengemudi ojek online, semuanya larut dalam suasana kekeluargaan yang terasa akrab dan hangat.
UMKM Jadi Sajian, Ekonomi Rakyat Ikut Bergerak
Di tengah keramaian itu, aroma hidangan khas Nusantara menggoda selera. Beragam menu seperti soto ayam, semanggi, nasi goreng, mi goreng, hingga tahu campur disajikan gratis. Semua hidangan tersebut merupakan hasil karya pelaku UMKM dan pedagang kaki lima yang turut diberdayakan dalam acara ini.
Bagi Khofifah, menghadirkan kuliner UMKM bukan sekadar jamuan, melainkan bagian dari upaya menggerakkan ekonomi rakyat. Ia menyebut, melibatkan UMKM dalam riyayan adalah bentuk nyata kebersamaan yang saling menguatkan.
“Melarisi UMKM dengan menyediakan hidangan untuk tamu menjadi bagian dari kebersamaan kita,” ujarnya.
Riyayan, Tradisi yang Menyatukan Tanpa Sekat
Lebih dari itu, riyayan juga dimaknai sebagai momentum mempererat hubungan sosial. Dalam pandangannya, tradisi ini selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam tentang pentingnya menjaga silaturahmi yang membawa keberkahan umur dan rezeki.
“Kita ingin menguatkan seduluran, mempererat hubungan antarmasyarakat,” tutur Khofifah.
Cerita Warga: Dari Tradisi Tahunan hingga Inspirasi
Antusiasme warga pun menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Fauziah, warga Ampel, mengaku telah rutin menghadiri riyayan ini selama tujuh tahun terakhir bersama keluarganya.
Ia merasa senang bisa merasakan suasana hangat sekaligus menikmati hidangan yang disediakan. Hal serupa juga dirasakan Asiyah yang mengaku bahagia bisa bertemu langsung dengan gubernur.
Sementara itu, Dhea, koordinator ojol perempuan Jawa Timur, melihat sosok Khofifah sebagai inspirasi, terutama bagi perempuan yang membutuhkan figur pemimpin yang peduli.
Harapan dari Momentum Idul Fitri
Riyayan yang digelar selama dua hari, 22–23 Maret 2026, ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga simbol kuatnya harmoni sosial di Jawa Timur.
Khofifah berharap energi positif dari Idul Fitri dapat terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, menjadi semangat gotong royong untuk membangun Jawa Timur yang lebih sejahtera.






